Tunggu Hasil Pemilu, Investor Obligasi Menahan Pembelian
Jumat, 17 Sep 2004 12:12 WIB
Jakarta - Investor diperkirakan akan menahan pembelian obligasi pada pekan depan sehubungan dengan pelaksanaan pemilihan presiden 20 September 2004, setelah selama enam pekan ini harga obligasi terus naik. Hal ini karena investor akan menunggu aksi 100 hari presiden terpilih."Selama enam pekan lebih harga obligasi terus naik, walaupun sempat turun sesaat karena bom kuningan, tapi untuk pekan depan kenaikannya tidak akan sebesar sebelumnya karena investor menunggu hasil pemilu dan aksi 100 hari dari presiden terpilih," kata Iwan Dharmawan, Capital Market Divison Head, di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jumat,(17/9/2004).Menurut Iwan, pada pekan depan investor lebih memilih wait and see karena menilai pemilu adalah faktor paling krusial. "Investor akan melihat result pemilu dan memilih wait and see, karena yang diperhatikan adalah program yang dijalankan seperti apa dalam 100 hari pertama serta bagaimana penerimaan pihak yang kalah," ujarnya.Namun menurut Iwan, meski investor obligasi pada pekan depan lebih banyak memilih wait and see pasar obligasi tetap masih menunjukkan kenaikan (bullish). Pasalnya, untuk obligasi jangka menengah (medium term) dan jangka pendek (short term) masih ada potensi untuk naik."Mungkin yang long term sudah mengalami kenaikan signifikan dalam minggu ini, yang masih belum banyak bergerak adalah yang mid term dan short term/. Yield curve yang 10 tahun sudah mendekati 11 persen sedangkan mid term 5 - 7 tahun masih sekitar 10,60 persen sehingga masihakan naik cukup banyak dalam minggu depan, setelah itu baru yang short term," katanya.Saat ini kata Iwan, kenaikan pasar obligasi dipengaruhi tiga faktor, pertama, likuiditas di pasar yang terus meningkat karena ada obligasi negara (SUN) yang jatuh tempo pada 15 septmber 2004 sebesar 3,679 triliun. Kedua, kondisi rupiah yang terus menguat sehingga terjadi tambahan suplai rupiah di pasar karena banyak investor yang menukarkan uangnya dari dolar. Ketiga, penurunan yield treasury US yang turun cukup signifikan dari 4,2 persen ke 4,07 persen. "Penurunan yield treasury US bukan hanya mendrive pasar obligasi Indonesia tapi juga dunia," kata Iwan.
(qom/)











































