Dirut Timah, Sukrisno menyebut, pendapatan bersih yang dicatat perseroan pada periode yang sama juga turun menjadi Rp 1,87 triliun dari periode sebelumnya Rp 1,98 triliun.
"Penerimaan penjualan hingga akhir September 2012 tercatat sebesar Rp 6,009 triliun atau turun 12% dari realisasi pendapatan tahun 2011 Rp 6,816 triliun," tutur Sukrisno di acara Public Expose Timah di Hotel Grand Sahid Jakarta, Rabu (21/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai triwulan III-2012 harga rata-rata logam timah dunia di LME adalah US$ 20.935 per metrik ton," tambahnya.
Selain itu, produksi timah yang dihasilkan perusahaan tambang pelat merah ini hingga September 2012 mencapai 24.357 metrik ton atau turun 14% dari periode yang sama yang sebesar 28.165 ton. Sedangkan produksi logam timah, yang dihasilkan mencapai 23.255 metrik ton, turun 18% dari 28.532 metrik ton.
"Harga rata-rata logam timah yang diterima perseroan sampai dengan triwulan III 2012 sebesar US$ 21.523 per metrik ton atau 24 persen lebih rendah dibandingkan dari periode yang sama tahun 2011 sebesar US$ 28.440 per metrik ton," sebutnya.
Sukrisno pun menyebut Timah memiliki strategi khusus untuk mengendalikan dampak aktivitas pertambangan ilegal yang memicu anjloknya harga logam timah perseroan.
"Kami merencanakan reklamasi kerjasama dengan pemda dan masyarakat. Mulai pembibitan dan penanaman hingga pemeiliharaan dan panen. Sehingga nantinya tidak diarahkan ke penambangan timah bisa ke perkebunan dan peternakan," pungkasnya.
(feb/ang)











































