Saham Jadi Pilihan Investor di Tahun 2005

Saham Jadi Pilihan Investor di Tahun 2005

- detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2004 12:03 WIB
Jakarta - Investor lebih memilih masuk ke pasar saham ketimbang obligasi pada tahun depan, karena sudah jelasnya hasil pemilu presiden. Sedangkan perdagangan obligasi tahun depan mulai tertekan akibat suku bunga yang cenderung mendatar (flat), sehingga 2005 akan menjadi tahunnya pasar saham."Kalau tahun depan diperkirakan pasar saham lebih bagus ketimbang obligasi, karena setelah pemilu dan sudah kejelasan pasar saham akan lebih bergairah," kata Iwan Dharmawan, Capital Market Division Head Bank NISP akhir pekan ini.Selesainya pemilu di Indonesia yang juga diikuti pemilu di AS, akan membuat investor lebih percaya diri masuk ke pasar saham karena melihat potensi keuntungan yang lebih tinggi dan cepat. Sedangkan pasar obligasi Indonesia yang marak dalam dua tahun terakhir lebih dipicu oleh menurunnya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) hingga ke level tujuh persenan.Namun belakangan, ada kecenderungan tingkat suku bunga mulai naik tipis karena selain faktor rupiah yang gampang berfluktuasi juga karena suku bunga The Fed yang diperkirakan naik terus hingga akhir tahun 2004. Suku bunga The Fed saat ini dikisaran 1,75 persen dan SBI di level 7,39 persen. Suku bunga SBI pada tahun depan sendiri diprediksi relatif flat, meski pemerintah dalam RAPBN 2005 menargetkan sebesar 6,5 persen.Menurut Iwan, dalam enam pekan terakhir pasar obligasi sangat ramai yang ditandai dengan naiknya harga obligasi. Kenaikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor pertama, adanya obligasi negara yang jatuh tempo pada 15 September 2004 sebesar Rp 3,679 triliun. Kedua menguatnya rupiah pasca bom Kuningan hingga dilevel Rp 9.000 per dolar AS. Ketiga, faktor dari pasar internasional seperti menurunnya tingkat suku bunga US Treasury dari 4,2 persen menjadi 4,07 persen yang mendorong maraknya pasar obligasi internasional.Namun untuk pekan depan, Iwan melihat investor obligasi akan mengurangi transaksinya karena lebih memilih wait and see menunggu kepastian hasil pemilu. Apalagi untuk obligasi jangka panjang sudah banyak yang naik, sehingga kalaupun ada kenaikan harga obligasi diperkirakan untuk yang jangka menengah dan jangka panjang. "Untuk pasar obligasi tahun depan itu tetap bagus cuma tidak seramai tahun ini," kata Iwan. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads