Seperti dikutip dari The Telegraph, Rabu (12/12/2012), pengunduran diri Nalin ini kabarnya akan dilangsungkan pada saat Bumi Plc menggelar pertemuan guna membahas hasil investigasi firma hukum Macfarlanes terkait dugaan penyelewengan keuangan di anak usahanya yang berbasis di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).
Selain itu, pertemuan yang akan digelar Rabu 12 Desember 2012 waktu setempat itu juga bakal membahas tawaran dari Grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild. Keduanya masing-masing menawarkan proposal yang ujung-ujungnya tidak mau berurusan lagi satu sama lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokumen curian ini kemudian dipalsukan oleh Rothschild dan diberikan kepada Macfarlanes dengan alasan dokumen tersebut didapat dari sumber yang terpercaya.
Bahkan, mitra Grup Bakrie yang membantu tambahan modal, yaitu Grup Borneo yang dipimpin salah satu orang terkaya di Indonesia, Samin Tan, sudah menyewa perusahaan internet security asal Inggris, Context Information Security, untuk menyelidiki pencurian dokumen tersebut.
Grup Bakrie sudah mengajukan proposal untuk melepas hubungan dengan Bumi Plc melalui pembelian kembali saham-saham yang dipegang Bumi Plc di aset-asetnya di Indonesia senilai US$ 1,2 miliar.
Yaitu melalui pembelian kembali 29% saham BUMI juga 85% kepemilikan di PT Berau Coal Tbk (BRAU) yang keduanya merupakan anak usaha Bumi Plc. Pembelian akan dilakukan secara bertahap. Masing-masing nilainya US$ 278 juta dan US$ 950 juta.
Rothschild, yang juga salah satu pemegang saham Mayoritas di Bumi Plc merespons proposal ini dengan cara mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direksi. Ia juga berani membayar Bumi Plc senilai US$ 270 juta (Rp 2,5 triliun) kepada Bumi Plc jika dewan komisarisnya berani memutus hubungan dengan Grup Bakrie dan Samin Tan.
Kabarnya, upaya Rothschild mendepak Grup Bakrie dan Samin Tan dari Bumi Plc adalah untuk menguasai sepenuhnya aset-aset tambangnya di Indonesia.
(ang/dnl)











































