Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Aris Yunanto menyarankan, BUMN strategis seperti PT Pertamina (Persero) atau PT PLN (Persero) tidak masuk program privatisasi karena akan menggangu ketahanan nasional.
"Kalau itu sangat strategis siapa yang gak mau beli PLN dan Pertamina, PGN, Pelindo, Angkasa Pura itu kan statregis mengusai jaringan, hati-hati melepas," tutur Aris kepada detikFinance, Jumat (14/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diprivatisasi kemudian jadi milik asing karena ngambilnya berat, kinerja naik harga sahamnya naik. Kita sulit beli lagi buyback saham. Contoh: Indosat sudah enggak bisa beli lagi, itu terlalu mahal," pungkasnya.
Seperti diketahui, di 2013 nanti Dahlan tetap menjalankan program privatisasi BUMN melalui penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Hal tersebut dilakukan untuk mendorong transparansi dan kinerja perusahaan plat merah.
Beberapa perusahaan negara yang siap melantai di bursa saham antara lain PT Semen Baturaja (Persero) dan PT Pegadaian (Persero). Sementara anak usaha BUMN di antaranya, PT Pertamina Gas
(Pertagas), PT Pertamina Drilling Services, PT GMF AeroAsia, PT PLN Enjiniring. Sayangnya, rencana ini mandeg karena harus menunggu persetujuan DPR.
(feb/ang)











































