Permintaan saham WSKT selama penawaran (bookbuilding) mengalami oversubscribe (kelebihan permintaan) hingga 9 kali dari jumlah saham yang dilepas ke publik.
Sukses ini seakan menjawab tantangan yang diberikan manajemen perseroan. Waskita empat tahun lalu masih berstatus BUMN sakit dan masuk dalam daftar pasien Perusahaan Pengelola Aset (PPA).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (Waskita) patuh dan akhirnya bisa diselamatkan. Tadinya mau ditutup," cerita Boyke saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (19/12/2012).
Boyke menambahkan, dalam membenahi BUMN sakit ia tidak bisa sendirian. Perlu dukungan dari manajemen perusahaan yang bersangkutan, agar langkah strategis bisa berjalan baik. "Tingkat kesulitan masing-masing. Dan ilmu dalam menyehatkan adalah iqra (membaca)," paparnya.
Suksesnya Waskita melantai di bursa juga diakui Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN Pandu Djajanto. Menurut Pandu, Waskita memilih peluang untuk sehat dan bahkan maju seperti BUMN karya lain.
"Manajemen memiliki kemampuan melakukan mampu menjalankannya. Ngomong jujur, potensinya masih ada. Blessing, ini bisa dilakukan dengan cepat. Dari jadwal restrukturisasi 6 tahun, dalam waktu kurang dari 4 tahun sudah bisa," paparnya.
Sukses Waskita dibuktikan dengan raihan kontrak yang mencapai Rp 11 triliun dan akan bertambah Rp 1 triliun hingga Desember. Sementara total kontrak perseroan di 2012 diharapkan mencapai Rp 17 triliun, karena ada kontrak peralihan periode sebelumnya (carry over) Rp 5 triliun.
"Kontrak tahun ini akan dideliver Rp 9 triliun, hingga ada potensi carry over Rp 8 triliun. Dengan target penambahan kontrak baru 2013 sekitar Rp 14 triliun, total kontrak di tahun depan mencapai Rp 22 triliun," papar Direktur Utama Waskita Karya M. Choliq.
Perseroan banyak mengandalkan kontrak dari sesama BUMN atau BUMD dan swasta. Lima kotrak berjalan yang kini sedang berjalan diantaranya tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Rp 773,38 miliar, pematangan lahan proyek ekspansi PT Krakatau Steel Rp 524,997 miliar. Tol Tanjung Priok E-2 Rp 457,63 miliar, Bandara Kualanamu Paket 4 Rp 435,2 miliar, dan Bandara Surabaya Rp 352,909 miliar.
Selain itu, terdapat pula proyek pembangunan jembatan, bendungan dan waduk dengan nilai Rp 1,5 triliun. Keempat proyek tersebut berlokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, dan NAD. Tiga dari proyek tersebut dikerjakan melalui kontrak kerjasama operasi (KSO) senilai Rp 870 miliar dan sisanya, berlokasi di NAD dengan nilai proyek sekitar Rp 570 miliar dikerjakan Non KSO.
Emiten konstruksi memang diprediksi memiliki kinerja yang cerah tahun depan. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, sehingga saham-saham sektor konstruksi dan semen diprediksi berpotensi naik lebih tinggi dibandingkan lainnya.
Tidak hanya perusahaan kontruksi BUMN yang keciptran berkah. Saham-saham sejenis yang dikembangkan swasta juga mampu memcatatkan nilai kontrak tinggi. PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) mampu meraih kontrak baru sendiri Rp 2,4 triliun di 2012.
Corporate Secretary DGIK Djohan Halim menjelaskan, sepanjang tahun ini perseroan berhasil mengerjakan 43 proyek konstruksi dan infrastruktur. Total nilai untuk seluruh proyek tersebut mencapai Rp 3,7 triliun.
"Beberapa di antara proyek dikerjakan dengan pola kerjasama operasi atau KSO," ujarnya.
(wep/dnl)











































