"Ada upaya untuk stock split, agar size-nya cukup likuid bagi calon investor dalam perdagangan," kata Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto di Jakarta, Kamis (20/12/2012).
Direktur Keuangan Semen Indonesia Ahyanizzaman memperkirakan rasio stock split berkisar 1:5.
Dwi mengaku belum memiliki jadwal pasti aksi stock split dilakukan. Perseroan menunggu harga saham SMGR bergerak pada level Rp 20.000 per lembar. Hingga pakhir perdagangan hari ini, saham perseroan bertengger pada posisi Rp 15.800 atau mengalami kenaikan Rp 250 (1,61%) dari hari sebelumnya.
Pada bagian lain manajemen dapat meraih pendapatan Rp 19 triliun selama 2012, hal ini didukung oleh raihan penjualan semen yang mencapai 18-21 juta ton.
"Sedangkan tahun depan kami perkirakan revenue bisa tumbuh 20% seiring penambahan kapasitas produksi kita. EBITDA masih akan terjaga pada kisaran 20%, sedangkan laba lebih kecil karena kami mulai mencatat penyusutan, dan pembayaran bunga," tutur Ahyanizzaman.
Tahun depan diperkirakan hasil operasi anak usaha baru asal Vietnam sudah tercatat dalam buku Semen Indonesia. Atas kepemilikan 70% saham Thang Long Cement, perseroan akan mengakumulasi pendapatan tambahan Rp 1,4 triliun.
"Total produksi kami dengan ketambahan Thang Long, maka kapasitas kami mencapai 28 juta ton, dan menjadi yang terbesar di Asean. Karena Siam Cement 23 juta ton," tambah Dwi.
Hingga November penjualan perseroan mencapai 20,4 juta ton, tumbuh 14% dari posisi yang sama tahun lalu. Sementara konsumsi semen domestik pada periode yang sama mengalami pertumbuhan 14,8% menjadi 49,8 juta ton. Perseroan masih menguasai 40,8% pangsa pasar domestik.
(wep/ang)










































