IFC Tanamkan Investasi Baru di Indonesia US$ 200 Juta

IFC Tanamkan Investasi Baru di Indonesia US$ 200 Juta

- detikFinance
Kamis, 23 Sep 2004 15:50 WIB
Jakarta - International Finance Corporation (IFC) berencana menanamkan investasi baru di Indonesia sebesar US$ 200 juta. Investasi tersebut akan dikucurkan untuk beberapa sektor, diantaranya finansial dan kelistrikan.Demikian diungkapkan Country Manager IFC untuk Indonesia German Vegarra di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (23/9/2004). Menurut Vegarra, investasi di Indonesia tersebut akan dikucurkan untuk tahun fiskal IFC 2005, dimulai Juli 2004 hingga Juni 2005. Sejauh ini dari rencana investasi tersebut tidak ada sesen pun yang direalisasikan. Namun diperkirakan pada Desember nanti IFC bisa merealisasikan investasi tersebut sebesar US$ 100 juta. Investasi yang dilakukan IFC mengalami peningkatan dibanding investasi tahun sebelumnya sebesar US$ 130 juta. Vegarra mengatakan Indonesia dinilai cukup penting bagi IFC dalam menginvestasikan dana-dananya. Dengan tambahan investasi baru diharapkan hingga tahun depan total investasi yang bisa ditanamkan IFC di Indonesia sekitar US$ 500 juta. Angka tersebut mendapatkan peringkat ke delapan untuk investasi yang dilakukan IFC di sekitar 140 negara berkembang.Vegarra mengakui Indonesia di masa mendatang akan bermunculan banyak hal yang menganggu seperti ketidakpastian dan biaya-biaya yang tidak jelas. Namun menurutnya sejak dua tahun lalu IFC bertekad menginvestasikan dananya di Indonesia."Negara ini telah membuat kemajuan yang besar dalam stablitas ekonomi makro. Pemilu yang baru berlangsung, menunjukkan perbaikan dalam iklim politik negara ini. Kami sadar presiden terpilih nanti memiliki tantangan berat dalam menciptakan lapangan kerja, perbaikan iklim investasi dan keamanan," katanya. Namun, imbuh Vegarra, IFC ingin mendukung agenda pemerintah untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut.Vegarra juga memaparkan secara global berdasarkan buku laporan IFC 2004, pihaknya telah meningkatkan investasi di Asia Tenggara dan Pasifik hingga 27 persen atau US$ 730 juta. Untuk Asia Timur, IFC menyokong 40 proyek baru di tujuh negara. Sedangkan di Indonesia program yang didukung IFC meningkat 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Angkanya mencapai US$ 132 juta yang mendukung tujuh program.Pada tahun lalu IFC juga membutuhkan pertumbuhan yang kuat pada portofolio dan laba. Dalam tahun fiskal 2004 komitmen investasi yang sudah dicatatkan IFC mencapai US$ 4,75 miliar atau naik 23 persen dibanding tahun fiskal 2003 sebesar US$ 3,85 miliar. Sedangkan laba usaha yang berhasil dicetak pada tahun fiskal 2004 sebesar US$ 982 juta, naik dari US$ 528 juta pada tahun sebelumnya.Pertumbuhan pendanaan regional, katanya, dipicu kenaikan pendanaan yang cukup dramatis kepada perusahaan swasta di Cina. Untuk tahun 2004, IFC mencatatkan komitmen investasi sebesar US$ 387 juta untuk mendanai 21 proyek di Cina, atau naik dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.Sementara itu Programme Manager IFC/PENSA Hans Schrader mengungkapkan dari total laba yang diraih IFC dalam investasi, sebesar US$ 5 juta dihibahkan untuk pengembangan UKM yang masuk dalam program PENSA. Program tersebut didukung oleh lima negara yaitu Canada, Jepang, Australia, Swiss dan Belanda. Investasi untuk PENSA ini mencapai US$ 20 juta.Untuk Indonesia, menurutnya, ada lima program yang didukung PENSA, diantaranya bantuan UKM untuk bidang migas dan pertambangan di Balikpapan Kalimantan Timur, UKM di bidang agrobisnis di Makassar Sulawesi Selatan, bantuan untuk pengrajin kayu dan batu di Bali, pendanaan untuk UKM di Surabaya Jawa Timur dan di Jakarta dalam bentuk konsultasi atau kebijakan yang terkait dengan pengembangan UKM. IFC sejak didirikan pada tahun 1956 telah membukukan komitmen investasi sebesar lebih dari US$ 44 miliar dari dana sendiri dan memobilisasikan US$ 23 miliar dalam bentuk dana sindikasi untuk 3.143 perusahaan di 140 negara berkembang. Secara internasional komitmen investasi IFC pada 2004 mencapai US$ 17,9 miliar yang berasal dari dana sendiri dan US$ 5,5 miliar yang berasal dari pinjaman sindikasi. Di Indonesia IFC merupakan salah satu pemegang saham Bank Buana dan NISP. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads