Masa Depan Pertambangan Indonesia Terancam Mati
Sabtu, 25 Sep 2004 17:50 WIB
Jakarta - Sampai saat belum ada investasi baru di bidang pertambangan yang masuk ke dalam negeri. Jika kondisi ini terus berlangsung, 5 tahun mendatang pertambangan Indonesia mati.Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Perhapi Abdul Latief Bakrie dan Dewan Pakar Perhapi Irwandy Arif dalam konferensi pers di kantornya, Jl. Teluk Betung, Jakarta, Sabtu (25/9/2004)."Prospek investasi pertambangan di Indonesia ke depan sangat parah. Tanpa kasus Buyat saja, sudah banyak kendala yang dikeluhkan investor. Dengan adanya kasus Newmont yang diikuti dengan penahanan lima karyawannya, investor semakin takut kesini. Mereka pasti takut ditahan," kata Latief.Latief menjelaskan, minimnya investasi baru berdampak buruk bagi dunia pertambangan Indonesia. Dia memperkirakan, jika hal ini terus berlanjut kegiatan penambangan akan terhenti dalam 5 tahun. "Lima tahun lagi sudah tidak ada deposit yang ditambang," katanya.Menurut Latief, kondisi ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, sekitar 500.000-600.000 orang menggantunggkan hidupnya pada sektor pertambangan. Belum lagi ditambah pegawai-pegawai yang tidak secara langsung terkait sektor pertambangan."Jumlah pegawai yang tidak langsung malah jauh lebih banyak. Apa jadinya mereka kalau kegiatan pertambangan terhenti," jelas Latief.Ditambahkan Irwandy, yang juga tercatat sebagai dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Indonesia setiap tahunnya menelurkan 600 sarjana pertambangan."Dengan kondisi saat ini saja, akan ada 1.200 sarjana pertambangan yang jadi pengangguran pada tahun 2005. Angka ini akan semakin bertambah kalau investasi pertambangan benar-benar mati. Saya tidak bisa membayangkannya," katanya.
(djo/)











































