Apple melaporkan laba sebesar US$ 13,1 miliar (Rp 124,5) triliun dengan omzet US$ 54,5 miliar (Rp 516,8 triliun) di triwulan yang berakhir 29 Desember 2012. Secara triwulanan, penjualan iPhone dan iPad juga menembus rekor.
"Laba Apple memang naik, tapi naiknya tidak cukup tinggi," kata Rob Enderle, Analis Enderle Group yang bermarkas di Silicon Valley, dikutip AFP, Kamis (24/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan yang berbasis di California itu melaporkan sudah menjual 47,8 juta iPhone dan 22,9 juta iPad di akhir 2012 lalu.
"Kami sangat gembira dengan rekor penjualan lebih dari US$ 54 miliar dan lebih dari 75 juta perangkat iOS hanya dalam satu triwulan," kata CEO Apple Tim Cook.
Meski angkanya solid, banyak investor yang meragukan Apple, terutama setelah melaporkan target omzet triwulan ini yang melambat, hanya sekitar US$ 41-43 miliar saja dengan marjin laba 37,5-39,5%.
Selama ini, Apple sudah terkenal akan marjin laba alias selisih keuntungan yang sangat melambung, lebih tepatnya modal rendah tapi harga jual produk sangat tinggi.
"Steve Jobs sudah berhasil melakukan itu dan diterima masyarakat. Sementara Cook mengubah pola itu dan lebih menekankan kepada nilai dari sebuah produk itu sendiri, ia sedang mencoba melawan Samsung," ujar Enderle.
Pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat, saham Apple jatuh 9,8% ke level US$ 463,49 per lembar setelah keluarnya pengumuan kinerja tersebut.
Saham Apple sudah terus-terusan menurun setelah meraih rekor tertingginya sepanjang masa di US$ 700 per lembar tahun lalu. Penurunan itu terutama disebabkan banyak pihak khawatir Apple sudah mulai kehilangan inovasinya.
"Yang terpenting adalah masyarakat menyukai produk-produk kami. Tidak hanya membeli, tapi juga mencintai produk kami," kata Cook dalam pertemuannya dengan para analis.
(ang/ang)











































