Bukaka Serahkan Masalah Pembukaan Suspensi ke BEJ
Rabu, 29 Sep 2004 11:39 WIB
Jakarta - Manajemen PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) menyerahkan masalah masih disuspensinya saham perseroan ke Bursa Efek Jakarta (BEJ). Meski telah disuspensi 1 tahun lebih, perseroan mengaku tidak berniat melakukan delisting (pengahapusan saham) dari bursa."Kalau mau di-delisting, sudah sejak dulu bisa kita dilakukan. Tapi BEJ punya pertimbangan lain karena masalah laporan keuangan Bukaka yang selama 4 tahun mengalami opini disclaimer," kata Direktur Keuangan Bukaka, Johansyah Anwar di BEJ, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (29/9/2004).Johansyah mengungkapkan mengapa opini disclaimer yang dialami selama 4 tahun berturut-turut, termasuk laporan keuangan 2003, terjadi. Menurutnya, hal itu akibat adanya perbedaaan persepsi antara akuntan publik Ernst & Young (E&Y) yang melakukan audit, dengan pihak manajemen Bukaka.Hal ini merupakan kasus dari terjadinya krisis tahun 1997 di mana Bukaka tidak mampu membayar utang sebesar US $ 152 juta. Namun melalui prakarsa Jakarta, antara perseroan dan kreditur sepakat melakukan haircut hingga US $ 90 juta. Di mana 15 Maret 2001, pengadilan setuju untuk mendiskon utang sampai pembayarannya tinggal 10 persen atau US $ 9 juta.Sayangnya, kata Johansyah, ada sebagian kreditur yang menolak keputusan pengadilan tersebut. Sehingga akhirnya masalah utang itu mengganggu neraca keuangan.Dilema lainnya dialami perseroan dalah, jika kreditur menyetujui pembayaran 10 persn, maka Bukaka langsung mencatat keuntungan US $ 81 juta. Tapi dengan dibukukannya keuntungan itu, perseroan harus membayar pajak sebesar 35 persen dari nilai keuntungan itu."Jadi ini serba salah, kita bayar US $ 9 juta plus pajak 35 persen, padahal dana itu kalau digunakan untuk proyek sudah sangat besar. Inilah yang belum ada titik temu dan masih menjadi ganjalan bagi kita. Kita serahkan ke BEJ bagaimana penyelesaiannya karena sulit mencari titik temu," ungkap Johansyah.Meski perserotan terus mengalami opini disclaimer, Bukaka masih bisa menjalankan kelangsungan hidup perusahaan. Beberapa proyek yang dijalankan antara lain, pembangkitan tanaga listrik atau infrastuktur lainnya, seperti pembangunan jembatan dan lain-lain.Johansyah menambahkan, Bukaka juga menangani proyek hidro power di Sulawesi dan Bendungan Sigura-gura dengan nilai yang cukup besar. Sehingga diharapkan bisa mendapatkan pendapatan reguler dan menutup ongkos produksi. Pembanguan hidro power ini memakan waktu 1,5 sampai 2 tahun. Di mana untuk pembangunannya Bukaka sudah membeli digger senilai US $ 650 juta dari dana internal."Setelah itu kami akan melakukan project financing dari beberapa bank. Sebab kalau coorporate loand kita sulit mendapatkannya karena opinis disclimer," ujar Johansyah.Hingga tahun 2004 diharapkan pendapatan perseroan mencapai Rp 350 miliar di mana per Agustus sudah tercapai Rp 285 miliar.Soal keberadaan Yusuf Kalla yang hampir dipastikan bakal menjadi wapres, Johansyah mengatakan, Kalla tidak terlibat sama sekali dalam perusahaan itu. Sebab, Kalla hanya memiliki saham 0,01 persen. "Kita komit tidak akan mengganggu Pak Kalla, meski dengan menjadi wapres ada pengaruh psikologi sedikit," tutur Johansyah.
(djo/)











































