Saham-saham Tambang akan Meredup Tahun Ini

Saham-saham Tambang akan Meredup Tahun Ini

- detikFinance
Selasa, 12 Feb 2013 14:26 WIB
Saham-saham Tambang akan Meredup Tahun Ini
Jakarta - Sektor mining (tambang) seperti batubara diprediksi menjadi sektor yang bakal meredup di pasar modal tahun ini. Sektor ini berpotensi melemah karena tekanan harga batubara di Newcastle masih di bawah pasar.

Hal itu diungkapkan Lucky Bayu Purnomo, Co-Founder dari Remax Capital, dalam acara sharing session di Ruang Rapat ICaMEL, Gedung BEI, Jakarta, Selasa (12/2/13).

"Memang pada dasarnya batubara yang berasal dari Newcastle kurang menggairahkan, jadi saat ini saham batubara koreksi," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, dia menyebutkan, harga batubara tercatat di angka US$ 94 per metrik ton. Menurutnya, angka tersebut merupakan harga yang rendah sehingga merefleksikan harga kontrak batubara di Indonesia.

"Harga batubara mengacu pada Newcastle sama Rotterdam tapi yang utama Newcastle. Ini dijadikan acuan. Harga batubara US$ 94 per metrik ton terakhir, weekly (minggu kemarin). Hubungannya dengan domestik, harga itu melemah sehingga merefleksi harga kontrak di Indonesia. Akhir-akhir ini banyak koreksi di harga saham. Harga Newcastle dalam posisi down trend, saat ini terendah," paparnya.

Sementara itu, prediksi tersebut juga akan membuat koreksi permintaan batubara karena harga acuan melemah.

"China membukukan pertumbuhan batubara terbesar hingga 5 tahun terakhir. Ini cerminan bahaya terbesar. Permintaan mengalami koreksi karena harga acuan melemah, demand akan menurun karena harga transaksi di bawah harga pasar sehingga potensi marginnya menurun. Khawatir harga kontrak tidak memiliki harga yang baik," terangnya.

Selain itu, dia menyebutkan, sektor properti diprediksi paling cemerlang di tahun ini karena saat ini sektor tersebut masih mendominasi pergerakan pasar.

"Sektor paling perform properti, cukup baik walaupun memiliki over value tapi masyarakat tetap meng-update itu, ditunjukkan oleh masih mendominasi pergerakan pasar," kata Lucky.

Di samping 2 sektor itu, Lucky menyebutkan, ada beberapa sektor yang bakal memiliki peluang baik seperti sektor infrastruktur, manufaktur, dan banking.

"Tiga sektor ini memiliki potensi menjadi perhatian investor dan penanam modal ke depan. Kalau banking seperti BRI, Mandiri, dan BCA. Ini menjadi perhatian untuk menyikapi sektor-sektor bank ke depan karena investor asing melihat pertumbuhan suatu negara biasanya di sektor perbankan seperti KPR dan kredit motor," paparnya.

Sementara untuk sektor infrastruktur, Lucky menyebutkan, saham Adhi Karya dan Wijaya Karya menjadi rekomendasi para investor. Untuk sektor basic industri, dia merekomendasikan saham Holcimn Indocement, dan Semen Indonesia.

"Itu adalah ending daripada seluruh kondisi pasar pekan ini yang bisa kita capture untuk menyikapi dinamika pasar ke depan," kata Lucky.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads