IHSG Pecahkan Rekor Lagi

IHSG Pecahkan Rekor Lagi

- detikFinance
Jumat, 01 Okt 2004 16:26 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan akhir pekan Jumat, (1/10/2004), kembali mencetak rekor baru dengan naik 15,771 poin pada level 835,905. Sentimen positif dari menguatnya bursa global, turunnya harga minyak dunia dan turunnya inflasi pada September 2004, memberikan kepercayaan pada investor untuk kembali mengakumulasi saham.Sebelumnya rekor baru indeks terpecahkan pada 21 september 2004 di level 823,858. Indeks LQ-45 naik 4,238 poin pada level 181,520, Jakarta Islamic Index (JII) naik 3,236 poin pada level 137,130, Indeks Papan Utama (MBX) naik 4,468 poin pada level 221,213, dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) naik 3,358 poin pada posisi 197,200.Perdagangan di pasar reguler berlangsung ramai dengan transaksi yang terjadis ebnyak 18.343 kali pada volume 2.739.547 lot saham senilai Rp 959,923 miliar. Sebanyak 101 saham naik, 29 saham turun dan 249 stagnan.Saham-saham yang naik harganya di top gainer diantaranya INCO yang naik Rp 1.250 ke posisi Rp 11.400, Gudang Garam naik Rp 200 menjadi Rp 13.200, Astra Internasional naik Rp 150 menjadi Rp 7.000, HM Sampoerna naik Rp 150 menjadi Rp 6.250, ANTAM naik Rp 125 menjadi Rp 1.500, Indosat naik Rp 100 menjadi Rp 4.325, BRI naik Rp 100 menjadi Rp 2.150, Telkom naik Rp 50 menjadi Rp 4.200, dan BCA naik Rp 25 menjadi Rp 2.025.Sedangkan saham yang turun harganya di top losser diantaranya Barito Pasific Timber turun Rp 25 menjadi Rp 325, PGN turun Rp 25 menjadi Rp 1.125, Bank Lippo turun Rp 25 menjadi Rp 525, dan Rig Tender turun Rp 25 menjadi Rp 900.Menurut Pendi Susianto, analis dari BNI Securities, kanaikan indeks dipengaruhi beberapa faktor seperti mulai menguatnya rupiah dan mulai turunnya harga minyak dunia meski baru turun 0,8 persen. Hal ini karena spekulasi terhadap harga minyak mereda setelah kerusuhan di Nigeria mulai teratasi.Selain itu, indikator pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II 2004 di luar ekspektasi pasar yang sebesar 2,8 persen ternyata mencapai 3,3 persen. Membaiknya ekonomi AS ini membuat keyakinan investor global bahwa ekonomi dunia juga akan membaik.Faktor harga minyak dan membaiknya ekonomi AS membuat bursa global dan regional termasuk di Indonesia rata-rata menguat. Mengenai sentimen pengumuman kabinet SBY pada 5 Oktober mendatang, menurut Pendi, pengaruhnya sedikit sekali dan tidak mendominasi karena pasar sudah melakukan antisipasi sebelumnya.Yang jelas, kata dia, investor di Indonesia yakin siapa pun presidennya, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik. Ini terlihat dari fundamental makro yag membaik, seperti inflasi pada September yang turun menjadi 0,2 persen.Pekan depan, Pendi memperkirakan, indeks masih berpeluang menguat ke level resistance 845 dengan support 824. Meski di awal pekan akan terjadi kondolidasi sedikit dari investor, namun indeks trennya tetap naik. (mi/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads