Meski cetak pertumbuhan laba, pendapatan induk usaha Grup Bakrie itu justru menyusut 4,4%, dari sebelumnya di 2011 sebesar Rp 16,2 triliun menjadi hanya Rp 15,48 triliun di akhir 2012. Sepanjang 2012 lalu perseroan berhasil menekan beban utang hingga 40%.
"Banyak catatan positif yang berhasil dibukukan oleh Perseroan sepanjang tahun lalu, khususnya terkait dengan manajemen utang dan portofolio," kata Direktur Utama & CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam keterangan pers, Senin (1/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2011, BNBR masih mencatatkan utang Rp 10,71 triliun. Tahun lalu, utang perseroan berkurang Rp 4,27 triliun, menjadi hanya Rp 6,44 triliun. Beban bunga juga ditekan dari sebelumnya Rp 2 triliun di 2011 menjadi Rp 1,2 triliun di 2012.
"Penurunan beban utang dan bunga pinjaman ini meringankan beban keuangan perseroan sepanjang tahun 2012," ujar Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno.
Bobby menambahkan, unit-unit usaha BNBR memberikan kontribusi 66% dari total revenue BNBR di 2012, dengan nilai mencapai Rp 10,11 triliun. PT Bakrie Building Industries (BBI) dan PT Bakrie Tosanjaya (BTJ), kata Bobby, jadi dua unit usaha BNBR yang memiliki prospek sangat baik untuk terus dikembangkan.
"Industri bahan bangunan memiliki prospek sangat bagus, seiring dengan pertumbuhan industri properti dan konstruksi. Didukung juga dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan daya beli konsumen yang terus meningkat, kami sangat optimis, industri bahan bangunan di dalam negeri akan terus melaju," kata Bobby.
Perusahaan yang memproduksi aneka jenis bahan bangunan di pabriknya di kawasan Jakarta Barat ini, tahun 2012 lalu berhasil meraup laba bersih Rp 39,2 miliar, naik 62% dibanding perolehan laba tahun sebelumnya.
"Tahun 2012 lalu, nilai penjualan BBI tumbuh 45% hingga mencapai Rp 651 miliar. Tahun 2013 ini, targetnya Rp 873 miliar. Ini target yang sangat realistis, mengingat berbagai inisiatif yang sedang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan usaha BBI," kata Bobby.
Dalam rangka pengembangan usaha BTJ, perseroan belum lama ini telah menuntaskan proses akuisisi aset terkait dengan komponen otomotif yang dimiliki oleh salah satu anak kelompok usaha besar asal Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia.
"Ya, sudah final, dengan dukungan pembiayaan dari perbankan nasional," ujarnya.
PT BTJ selama ini tercatat sebagai produsen dan pemasok komponen beberapa merk mobil komersial seperti Mitsubishi, Hino, Daihatsu, dan Toyota.
(ang/dnl)











































