Harga CPO Melempem, Laba BW Plantation Jatuh 56%

Harga CPO Melempem, Laba BW Plantation Jatuh 56%

- detikFinance
Rabu, 01 Mei 2013 17:11 WIB
Harga CPO Melempem, Laba BW Plantation Jatuh 56%
Jakarta - PT BW Plantation Tbk (BWPT) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 56% menjadi Rp 36,175 miliar di kuartal pertama 2013 dari perolehan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 82,257 miliar.

Laba operasi juga ikut turun 44,3% menjadi Rp 66,715 miliar di kuartal pertama 2013 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 119,818 miliar.

"Faktor harga CPO menekan industri sehingga laba turun. Tapi kita sangat konfiden terhadap bisnis ini walaupun harga tertekan," kata Corporate Secretary BWPT Kelik Irwantono saat acara Investor Day 2013, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (1/5/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, penjualan justru naik meskipun hanya naik tipis 0,5% menjadi Rp 268,866 miliar di kuartal pertama 2013 dibanding sebelumnya yang hanya Rp 267,652 miliar.

"Kenaikan penjualan ditopang oleh volume penjualan CPO yang naik 30 persen walaupun dari sisi harga mengalami penurunan," ujarnya.

Dia menyebutkan, produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti naik 24% menjadi Rp 138,205 ton di kuartal pertama 2013 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 111,215 ton.

Sampai dengan kuartal pertama 2013, perseroan telah melakukan penanaman baru di lahan inti seluas 758 hektar sehingga total lahan tertanam menjadi seluas 67.161 hektar termasuk lahan plasma seluas 6.726 hektar.

Bangun Pabrik Baru

Emiten berkode BWPT ini akan membangun pabrik baru di daerah Kalimantan Timur dengan nilai investasi US$ 10 juta. Rencananya, pabrik baru itu akan selesai akhir tahun ini dengan menargetkan bisa menghasilkan kapasitas produksi hingga 210 ton per jam.

"Pabrik baru sedang berjalan, akhir tahun ini atau lambatnya awal Januari 2014 bisa selesai," katanya.

Perseroan juga menargetkan bisa meningkatkan kapasitas produksi tahun ini sebesar 750 ribu ton naik 25% dari tahun sebelumnya.

Untuk merealisasikan pembangunan pabrik baru itu, perseroan telah menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang tahun ini sebesar Rp 1 triliun yang diambil 30% dari kas internal perseroan, sementara 70% berasal dari pinjaman.

"Capex untuk pembangunan pabrik baru di Kaltim dan pengembangan pabrik di Pangkalan Bun, Kalteng, pembebasan lahan dan menanam kawasan baru termasuk akuisisi," kata dia.

Untuk perluasan pabrik di Kalimantan Tengah, pihaknya menyiapkan dana US$ 1,5 juta yang juga berasal dari capex. Dia menargetkan perluasan pabrik itu akan selesai pada September 2013. Dengan perluasan pabrik itu, perseroan berharap bisa meningkatkan kapasitas produksi dari 45 ton per jam menjadi 60 ton per jam.

"Yang perluasan pabrik targetnya bisa selesai September tahun ini," ujarnya.
(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads