Arief mengaku kagum dengan lobi BUMN Malaysia yakni Khazanah dan BUMN Singapura yakni Temasek saat ekspansi ke luar negeri. Seperti saat bersaing tender pengembangan jaringan telekomunikasi di Myanmar, Arief melihat sebelum Temasek melalui Singel masuk ke negara ASEAN itu, lobi tingkat Presiden atau antar negara terlebih dahulu dilakukan, kemudian disusul kerjasama bisnis antar perusahaan. Begitu juga ke negara lain.
"Kalau Temasek masuk ke luar negeri. Negara dulu masuk baru Temasek. Seperti di Myanmar, saya submit proposal (tender) 4 April. Pada tanggal tanggal yang sama, jam berbeda. Itu yang datang Presiden Singapura lobi ketemu Presiden Myanmar. Khazanah juga sama," tutur Arief Pada Acara Talkshow "Kebangkitan BUMN Nasional" di hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (14/5/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak semudah masuk ke Indonesia," tambahnya.
Untuk memperkuat rencana ekspansi ke dunia internasional dan menghadapi persaingan bebas ASEAN. Telkom serius melakukan investasi pada sektor sumber daya manusia.
"Tahun 2013 kita investasi sebesar Rp 500 miliar ke people. Tahun 2015 pembetukan karakter Rp 2 triliun. Tanpa bangun karakter tidak akan merah putih. Kita akan kalah," tegasnya.
Ia pun menambahkan, belajar dari kondisi tersebut, agar bisa bersaing lebih kuat di kancah internasional, BUMN Indonesia harus tergabung dalam Indonesia Incorporated dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Hal ini, telah dilakukan seperti di Singapura dan Malaysia.
(feb/ang)











































