Akhir 2004, Yield Obligasi Cenderung Turun

Akhir 2004, Yield Obligasi Cenderung Turun

- detikFinance
Sabtu, 16 Okt 2004 14:38 WIB
Jakarta - Mulai akhir 2004 sampai tahun 2005, pasar sekunder obligasi diprediksi cenderung turun (bearish). Penurunan terutama dari tingkat imbal hasil (yield) sementara dari sisi volume tetap akan tinggi. Sedangkan untuk pasar primer, investor tetap akan menunggu penerbitan obligasi karena minimnya alternatif instrumen investasi lainnya. Demikian diungkapkan Head of Debt Research PT Danareksa Sekuritas Paulus Nurwandono kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhir pekan ini. Menurut Paulus, beberapa bulan kedepan pasar obligasi akan memasuki trend bearish (penurunan) karena orang cenderung beralih ke pasar saham (equiti). Hal ini karena tingkat yield obligasi kedepan akan tertahan dilevel sekarang yang akan membuat pasarnya cenderung sepi.Dijelaskan Paulus, pasar obligasi mengalami peningkatan pada tahun 2003-2004 karena terjadi penurunan suku bunga perbankan. Pada masa itu volume perdagangan obligasi mencapai Rp 4 triliun per minggu. Volume perdagangan obligasi bahkan mencapai Rp 6 triliun per minggu untuk periode Mei-Juni 2004. Apalagi pada tahun 2004 juga terjadi pengalihan (shifting) portofolio investasi dari asuransi dan dana pensiun ke obligasi. Dimana proses pengalihan portofolio tersebut, saat ini masih belum selesai sehingga diperkirakan tingkat permintaan obligasi tetap tinggi. Namun setelah Juni, volume perdagangan obligasi turun hingga sebesar Rp 2 triliun per minggu. "Pada periode Mei - Juni kemarin bahkan mencapai Rp 6 triliun per minggu lalu turun menjadi Rp 2 triliunan. Tapi setelah ada tekanan jual pada Juni kemarin yang volumenya turun drastis terlihat diminggu terakhir ini tiba-tiba naik lagi menjadi Rp 3,5 - Rp 4 triliun per minggu," ujar Paulus.Kondisi ini juga berlanjut ketika memasuki bulan puasa, volume perdagangan akan kembali berkurang dengan rata-rata sekitar Rp 2 triliun. "Mungkin akan balik lagi, biasanya sekitar Rp 4 triliun rupiah per minggu tapi sekarang turun menjadi Rp 2 triliun per minggu," ujarnya.Menurut Paulus, belum selesainya, proses shifting, akan menyebabkan tingkat permintaan obligasi tetap tinggi. Namun disisi lain suplainya atau penawaran juga besar karena pemerintah punya obligasi yang belum diterbitkan serta ada juga obligasi pemerintah yang jatuh tempo mencapai Rp 19,7 triliun.Karena supply dan demand sama kuat ini, Paulus memperkirakan yield obligasinya tidak akan banyak berubah dan relatif flat. Kecuali ada driver (pemicu) yang kuat, misalnya jika tahun depan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) turun lagi.Mengenai kemungkinan lesunya pasar obligasi karena yield relatif flat ini Paulus menilai, pemerintah tidak harus melakukan apapun karena ini berjalan sesuai mekanisme pasar. Namun akan lebih baik jika pemerintah bisa menjaga tingkat suku bunga agar tetap rendah, karena pasar obligasi sangat ditentukan oleh tingkat suku bunga bank. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads