IHSG Terjun Bebas 167 Poin, Menkeu: Pemerintah akan Naikkan Harga BBM

IHSG Terjun Bebas 167 Poin, Menkeu: Pemerintah akan Naikkan Harga BBM

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 11 Jun 2013 16:34 WIB
IHSG Terjun Bebas 167 Poin, Menkeu: Pemerintah akan Naikkan Harga BBM
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkena koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir ini. Investor asing memilih keluar dari investasinya di dalam negeri karena menilai situasi ekonomi Indonesia tidak kondusif.

Pemerintah yang belum juga menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dinilai buruk oleh investor asing. Pasalnya, subsidi energi yang jumlahnya hampir Rp 400 triliun itu sangat membebani keuangan negara.

"Hal lain yang mungkin dikhawatirkan pasar adalah BBM. Ini clear, pemerintah sedang dalam tahap untuk sosialisasi perlindungan sosialnya. Posisi BBM-nya sudah jelas, pemerintah akan menaikkan BBM," kata Menteri Keuangan Chatib Basri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/6/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyatakan, koreksi tajam yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini dialami juga oleh bursa-bursa regional, seperti Hang Seng, Nikkei 225, Straits Times, dan KOSPI.

"Tentu (pasar saham regional) berpengaruh pada stock market kita. Kalau berpengaruh pada stock market juga, maka akan terpengaruh pada rupiah kita juga," ujarnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga sebelumnya sempat menyentuh Rp 10.000/US$. Untungnya, hari ini Bank Indonesia (BI) langsung turun tangan dan menahan dolar AS di kisaran Rp 9.800-an.

"Fenomenanya didorong regional, fenomena global karena rencana The Fed untuk scale back QE yang membuat investor agak khawatir dengan arus modal ke emerging market. Itu sebabnya semua stock market region jatuh," katanya.

Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG menukik 167 poin menyusul maraknya tekanan jual di seluruh lapisan saham. Investor asing 'melarikan' dana hingga hampir Rp 4 triliun dari lantai bursa.

Seluruh lapisan saham terkena tekanan jual. Tak ada sektor yang bertahan di zona hijau, semuanya kena koreksi dengan rata-rata lebih dari 2%.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads