Perusahaan telekomuniasi pelat merah ini berencana masuk ke jasa penyedia layanan outsourcing untuk berbagai sektor.
"Australia kita tidak start dengan telekomunikasi dulu, kita mulai dengan bisnis outsourcing. Jadi kita lihat comparative advantage kita. Karena bisnis outsourcing di sana sangat mahal. Misalnya contact center, data entry, digital document itu mahal banget di sana. Masuk dengan harga 70% itu kita masih untung besar di sana," ucap Direktur Utama Telkom Arief Tjahja kepada wartawan di Hotel Hyatt Jakarta, Selasa (18/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pendapatan dari Telkom (internasional) masih rendah sekitar 2-3%. Kita harapkan itu bisa tingkatkan tahun ini menjadi 4% dan akhirnya tahun 2015 minimal 10% terhadap total revenue Telkom," sebutnya.
Hingga saat ini, Telkom sudah masuk ke empat negara. Namun pihaknya akan memperluas ekspansinya ke beberapa negara seperti Timor Leste, Hongkong dan Malaysia.
"Sampai dengan saat ini, sudah 4 negara. Boleh disebut dengan Malaysia karena kita punya saham di Scicom Malaysia. Kita akan masuk ke 10 negara. Taiwan, Macau, Malaysia, Saudi. Poinnya strategi yang kita gunakan adalah bisnis follow the people," tambahnya.
(feb/ang)











































