Kabinet Ditanggapi Dingin, IHSG Terkoreksi 6,991 Poin

Kabinet Ditanggapi Dingin, IHSG Terkoreksi 6,991 Poin

- detikFinance
Kamis, 21 Okt 2004 12:19 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi I, Kamis (21/10/2004) terkoreksi 6,991 poin pada level 833,800. Pasar saham tidak antusias terhadap nama-nama menteri ekonomi SBY dan lebih banyak bersikap netral karena masih ada sosok yang dianggap kurang bisa diterima.Indeks LQ-5 turun 1,813 poin pada level 180,988. Perdagangann di pasar reguler berjalan sepi dengan transaksi sebanyak 5.291 kali pada volume 554.686 lot saham senilai Rp 226,980 miliar. Sebanyak 20 saham naik, 60 saham turun dan 298 saham stagnan.Saham-saham yang turun harganya di top lossers diantaranya: Telkom turun Rp 75 menjadi Rp 4.250, Bank Danamon turun Rp 75 menjadi Rp 3.450, Astra Internasional turun Rp 50 menjadi Rp 7.850, PGN turun Rp 25 menjadi Rp 1.175, Indosat turun Rp 25 menjadi Rp 4.300, Bank Mandiri turun Rp 25 menjadi Rp 1.425.Sedangkan saham yang naik harganya di top gainers diantaranya: HM Sampoerna naik Rp 50 menjadi Rp 5.850, Citra Marga Nusaphala Persada naik Rp 50 menjadi Rp 750, Tjiwi Kimia naik Rp 25 menjadi Rp 1.375.Menurut Muhammad Reza analis dari Kuo Capital Raharja pasar tidak begitu antusias terhadap pegumuman menteri-mentei ekonomi di kabinet SBY. Investor kebanyakan hanya bersikap netral karena ada sebagian menteri yang dianggap bagus seperti Mari E Pangestu namun ada yang dianggap kurang bagus seperti Aburizal Bakrie. Pasar melihat Aburizal tidak begitu sukses mengelola perusahaannya termasuk pengalaman dalam menyelesaikan utangnya kepada beberapa kreditur."Jadi pasar cukup netral, tidak terlalu menanggapi positif karena tidak semua menteri itu dianggap populis oleh pasar. Tapi ini bisa diterima karena SBY harus mengakomodasi berbagai pihak," kata Reza.Investor melakukan aksi profit taking karena melihat beberap harga saham sudah naik cukup tinggi sehingga setelah pengumuam kabinet selesai pasar akan mencari keseimbangan baru dalam 1-2 hari ke depan di luar sentimen kabinet dan pemilihan presiden yang sudah habis. Namun demikian pasar masih menunggu kebijakan 100 hari kabinet SBY. "Jika bagus pasar akan merespon positif, tapi jika sebaliknya akan ditanggapi negatif," katanya. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads