Right Issue Batal, Niaga Terbitkan Sub Debt

Right Issue Batal, Niaga Terbitkan Sub Debt

- detikFinance
Selasa, 26 Okt 2004 11:39 WIB
Jakarta - PT Bank Niaga Tbk., akan menerbitkan obligasi sub debt senilai Rp 600-Rp 800 miliar setelah batal melakukan right issue yang semula direncanakan Rp 1 triliun.Obligasi sub debt ini diharapkan bisa diterbitkan tahun ini juga. Tetapi jika waktunya tidak terkejar, manajemen akan menerbitkannya paling lambat Maret 2005."Kita melihat sub debt lebih baik dibandingkan dengan right issue. Diperkirakan obligasi yang diterbitkan senilai Rp 600-Rp 800 miliar," ungkap Presdir Bank Niaga Peter B. Stock dalam jumpa pers pemaparan kinerja triwulan III 2004 di Gedung Graha Niaga, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa, (26/10/2004).Mengenai batalnya rigt issue, Peter mengungkapkan, setelah dilakukan kajian, obligasi sub debt ternyata lebih mudah diterima pasar. Dia menolak anggapan batalnya right issue karena tidak adanya persetujuan dari pemegang saham, dalam hal ini PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA)."Ah, nggak begitu. Kan untuk mendapatkan modal itu tidak hanya right issue tapi juga bisa sub debt," katanya.Diperkirakan, jika telah mendapatkan persetujuan Bapepam dan mekanisme penerbitan obligasi bisa diselesaikan dalam waktu cepat, maka penerbitan sub debt akan dilakukan akhir tahun ini, namun manajemen mempunyai jangka waktu sampai Maret 2005 agar obligasi itu bisa diterbitkan.Penerbitan obligasi sub debt ini bisa menaikkan CAR Bank Niaga sebesar 3-5 persen, di mana per September 2004, CAR Bank Niaga hanya sebesar 11,01 persen. Bank Niaga juga menargetkan pertumbuhan kredit baru tahun 2005 sama seperti tahun ini yang sebesar Rp 5 triliun-Rp 5,5 triliun, di mana dengan adanya kredit baru tersebut bisa mengikis CAR 3-5 persen. Peter juga menjelaskan, hingga akhir tahun 2004 laba bersih Bank Niaga diperkirakan bisa mencapai Rp 460 miliar, di mana per September 2004 sebesar Rp 435 miliar. Pemegang saham Bank Niaga saat ini adalah Commerce Asset Holding Berhard 52,82 persen, pemerintah 21,53 persen dan publik 25,65 persen. (mi/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads