Laba Bersih Indofood Tergerus Rugi Kurs
Sabtu, 30 Okt 2004 10:40 WIB
Jakarta - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatat penurunan laba bersih untuk periode 9 bulan yang berakhir 30 September 2004 sebesar 37 persen menjadi Rp 284,6 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 453,5 miliar.Turunnya laba bersih terutama disebabkan oleh kerugian nilai tukar valuta asing sebesar Rp 264,8 miliar sebagai akibat dari melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, yaitu dari sebesar Rp 8.465 pada akhir Desember 2003 menjadi Rp 9.170 pada akhir September 2004.Sedangkan penjualan sampai akhir September 2004 sebesar Rp 13,1 triliun naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 13 triliun. Indofood juga mencatat kenaikan laba usaha sebesar 12,9 persen menjadi Rp 1,5 trilyun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,4 triliun.Demikian penjelasan dari Direktur Utama & CEO Indofood Anthony Salim dalam siaran pers kinerja keuangan sampai kuartal ketiga 2004, Sabtu,(30/10/2004).Menurut Anthony, ketiga divisi utama Perseroan, yaitu mi instan, tepung terigu serta minyak goreng dan lemak nabati tetap merupakan kontributor utama dengan kontribusi sebesar 86 persen dari jumlah penjualan bersih konsolidasi.Divisi mi instan mempertahankan posisi dominannya di pasar dengan meraih volume penjualan sebesar 7,23 miliar bungkus atau relatif sama (flat) dibandingkan pada 9 bulan 2003 yang sebesar 7,28 miliar bungkus. Divisi tepung terigu mencatat peningkatan volume penjualannya sebesar 12,3 persen menjadi 1,8 juta ton dibandingkan 9 bulan 2003 yang sebesar 1,6 juta ton, dimana pada saat yang sama menaikkan harga jualnya, walaupun menghadapi persaingan dari tepung terigu impor dengan harga lebih murah.Penjualan minyak goreng bermerek dan lemak nabati naik 6,2 persen menjadi 346.300 ton dibandingkan 9 bulan 2003 yang sebesar 326.000 ton. "Sementara itu lebih tingginya yield per ha pada perkebunan kelapa sawit telah mendorong terjadinya kenaikan volume penjualan sebesar 8 persen menjadi 295.000 ton CPO dibandingkan 9 bulan 2003 sebesar 273.000 ton. Namun sebagai bagian dari restrukturisasi usaha, perseroan telah mengurangi kegiatan perdagangan CPO," kata Anthony. Total aset perseroan pada akhir September 2004 sebesar Rp 16,4 triliun, sedangkan per 31 Desember 2003 tercatat sebesar Rp 15,3 triliun). Saldo utang perseroan dalam mata uang Rupiah per 30 September 2004 sebesar Rp 4,8 triliun, dimana per 31 Desember 2003 sebesar Rp 4,1 triliun.Sedangkan saldo utang dalam denominasi dolar AS per 30 September 2004 menurun menjadi US$ 342 juta, dimana per 31 Desember 2003 sebesar US$ 400 juta. Apabila pinjaman dalam dolar AS tersebut dikonversikan ke dalam rupiah, maka keseluruhan utang Indofood per 30 September 2004 berjumlah Rp 7,9 trilyun. "Untuk menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar Rupiah, perseroan tetap mempertahankan kontrak lindung nilai Principal Only Swap (POS) yang berjumlah US$ 250 juta," ujar Anthony.
(ir/)











































