IHSG Jeblok Terus, Ini yang Sebenarnya Terjadi di Pasar Modal RI

IHSG Jeblok Terus, Ini yang Sebenarnya Terjadi di Pasar Modal RI

- detikFinance
Selasa, 20 Agu 2013 13:14 WIB
IHSG Jeblok Terus, Ini yang Sebenarnya Terjadi di Pasar Modal RI
Foto: IHSG (dok.detikFinance)
Jakarta - IHSG mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun ini dimana hingga kemarin saja sudah terkoreksi 5,6% di posisi 4313,52. Angka yang terendah sejak 11 Januari 2013 ini membuat pelaku usaha dan investor bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?

Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang juga anggota Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) Mirza Adityaswara menjelaskan, sebab musabab mengapa IHSG tersungkur. Ia mengungkapkan dua faktor penting yang mengakibatkan IHSG anjlok.

"Apa yang sedang terjadi di pasar modal Indonesia adalah tren di pasar modal emerging market," kata Mirza seperti ketika berbincang dengan detikFinance, Selasa (20/8/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Mirza, tren yang bergerak melemah ini dikarenakan adanya pemulihan ekonomi di AS, Jepang, dan Eropa.

"Pertama, karena adanya pemulihan ekonomi di AS, Jepang, dan Eropa sehingga dana yang semula mengalir ke emerging market sekarang kembali secara bertahap ke negara maju," kata Mirza.

"Kedua, yang mengalami tekanan jual cukup besar adalah negara berkembang yang rasio makro ekonominya sedang mengalami tekanan misalnya India dan Indonesia," kata Mirza.

Mantan Kepala Ekonom Bank Mandiri ini menyebutkan, Indonesia saat ini neraca pembayarannya sedang mengalami masalah karena impor yang tinggi dan ekspor yang melambat serta inflasi meningkat.

"Yang terpenting adalah Indonesia sudah mulai mengatasi peningkatan impor migas dengan mengurangi subsidi BBM dan menaikkan suku bunga agar impor non migas juga melambat. Tentu saja kebijakan jangka panjang untuk mengatasi problem struktur neraca pembayaran harus ditangani juga," tuturnya.

Dihubungi secara terpisah, Anggota DPR Arif Budimanta mengungkapkan, di tengah IHSG yang anjlok, rupiah berpotensi terus bergerak liar.

"Market tidak melihat ada kebijakan yang sinergis dan komprehensif antara kebijakan fiskal dan moneter. Dalam konteks ini, maka ke depan beban BI akan semakin menumpuk yang ditunjukkan oleh cadangan devisa yang semakin tergerus, apabila pengendalian nilai tukar hanya diandalkan kepada BI semata," paparnya.

Dikatakannya, pelemahan ini akan terus bergerak apabila tidak ada perbaikan salah satunya terhadap neraca perdagangan.

"Rupiah harus dikendalikan bukan dengan mengerem kredit karena bisa berdampak pada pertumbuhan. Tapi harus bisa mengatur cash flow nasional dengan mengajak pelaku ekonomi duduk bersama. BI dapat mempertimbangkan melakukan relaksasi ketentuan-ketentuan terkait pendalaman pasar valas," sebut Arif.
(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads