Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). SBY menilai saat ini bukan tahun yang mudah bagi ekonomi Indonesia.
"Sebagaimana yang saya sampaikan pada tanggal 16 Agustus lalu dalam RAPBN 2014 ini bahwa tahun ini adalah tahun yang tidak mudah, bagi ekonomi indonesia dan ekonomi di kawasan Asia. Dan banyak lagi negara-negara di dunia," ujar SBY.
Hal itu Presiden SBY sampaikan dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/8/2013). Ia didampingi Wakil Presiden Boediono, Menkopolhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, dan Menteri Keuangan Chatib Basri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor pertama, kata SBY, ada sentimen negatif dari pasar global dan regional, yaitu ditetapkan kebijakan moneter di AS yang berpengaruh kepada semua negara berkembang, emerging market termasuk ke indonesia.
Sementara faktor kedua adalah sentimen dari dalam negeri, yaitu ekspor menurun karena ekonomi dunia sedang mengalami perlambatan. Sementara impor barang masih tetap tinggi, sehingga neraca perdagangan Indonesia jdai defisit.
"Neraca pembayaran juga tidak baik. Hal seperti ini juga dilihat oleh yang disebut pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Antara lain, ada kekhawatiran pasar kalau-kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun secara tajam," jelasnya.
Menurut SBY kedua hal tersebut yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Namun, kata SBY, mata uang lain di regional juga mengalami hal yang sama.
"Bagaimanapun ktia bandingkan agar nilai tukar rupiah tidak lebih buruk dari isu keseluruhan. Ini yang saya anggap isu utama yang perlu kita carikan solusinya," katanya. (ang/dnl)











































