Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergejolak belakangan ini. Adapun dua faktor yang mempengaruhinya yakni dari dalam dan luar negeri.
Dari luar, penghentian stimulus yang digelontorkan The Fed membuat bursa asia khususnya Indonesia jeblok. Dana asing 'kabur', dan rupiah pun terkena imbasnya.
Adapun dari dalam yakni defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang masih cukup tinggi. Kedua hal tersebut membuat investor tak mau ambil pusing dan memindahkan investasinya dari Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring perkembangan ekonomi yang kuat dan inflasi yang terkendali, rupiah mampu menguat terhadap dolar dan berada di level Rp 8.900-an di 2010.
Adapun dolar mampu menguat hingga level di Rp 8.400 pada tahun 2011 atau tepatnya Rp 8.455 di Agustus 2011.
Namun memasuki tahun 2012, dolar yang berada di level Rp 9.000-an di awal tahun harus ditutup lebih tinggi hingga Rp 9.700 di akhir 2012 kemarin.
Apalagi memasuki tahun 2013. Dolar yang dibuka Rp 9.600-an di awal tahun 2013 kemarin menguat hingga Rp 10.900 sampai hari ini.
Presiden SBY mengungkapkan, ada faktor global dan regional serta domestik sendiri yang mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Faktor pertama, global dan regional, yaitu ditetapkan kebijakan moneter di AS yang berpengaruh kepada semua negara berkembang, emerging market termasuk ke indonesia.
Kemudian dari dalam sendiri defisit yang besar di neraca pembayaran mengakibatkan terganggunya fundamental ekonomi Indonesia. (dru/dnl)











































