Dolar Tembus Rp 11.000, Staf Khusus Presiden: Ini Fenomena Global

Dolar Tembus Rp 11.000, Staf Khusus Presiden: Ini Fenomena Global

- detikFinance
Kamis, 22 Agu 2013 16:48 WIB
Dolar Tembus Rp 11.000, Staf Khusus Presiden: Ini Fenomena Global
Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan juga anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) dinilai sebagai fenomena global. Semua negara di kawasan Asia Pasifik mengalami kondisi yang sama.

"Mengenai rupiah dan indeks harga saham gabungan kita, seperti disampaikan presiden, ini merupakan fenomena global dan kawasan. Tidak hanya Indonesia yang terkena dampak, tetapi negara di kawasan juga terkena imbas gejolak eksternal. Memang kita masih memiliki tantangan terakit neraca perdagangan kita yang masih negatif, dan juga tantangan di neraca pembayaran," tutur Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Firmanzah di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/8/2013).

Menurutnya, untuk mengantisipasi kondisi ini, pemerintah sedang merumuskan penyelesaian paket kebijakan pengelolaan pasar uang dan stabilisasi ekonomi di dalam negeri. Rencananya, paket kebijakan ekonomi ini akan disampaikan besok usai sholat Jumat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tentunya hal ini juga terus kita komunikasikan dengan Bank Indonesia, kemudian dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) karena pengalaman kita di tahun 2008, koordinasi yang kita lakukan secara intensif dengan sejumlah lembaga terkait di forum stabilitas sektor keuangan mampu menyelamatkan ekonomi kita dari krisis," tutur Firmanzah.

Apakah SBY yang akan menyampaikan paket kebijakan ini? Firmanzah belum berani memastikan.

Selain itu, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga mengatakan, ada beberapa langkah cepat yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bursa daham dan anjloknya rupiah. Salah satunya adalah terkait rencana pembelian kembali (buyback) saham BUMN yang saat ini sedang murah.

"Selain itu, pengelolaan valas di sejumlah BUMN kita yang selama ini memerlukan dolar AS untuk kegiatan usaha, terutama Pertamina, ini juga sedang dilakukan komunikasi dan koordinasi yang intensif," ujar Firmanzah.

Dia mengatakan, di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar saat ini, pembayaran utang pemerintah masih terkendali. Pemerintah masih menunggu kepastian keputusan bank sentral AS yaitu The Fed soal kelanjutan paket stimulus yang menjadi pusat perhatian investor dunia saat ini.
(dnl/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads