Pelemahan rupiah di awal pekan ini masih terus berlanjut hingga menembus angka Rp 10.800 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan mengatakan, salah satu solusi agar rupiah stabil adalah dengan kembali menaikkan tingkat suku bunga.
Namun, apakah solusi menaikkan tingkat suku bunga bisa meredam gejolak rupiah yang tak kunjung turun?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BI menaikkan BI Rate memang rupiah sempat menguat. Semua teori benar tapi itu hanya sementara. Paling-paling 2-3 hari tapi setelahnya tetap saja kan?" kata Suluh kepada detikFinance, di Jakarta, Senin (26/8/2013).
Namun, dia menjelaskan, menaikkan BI Rate lebih banyak dampak negatifnya seperti bunga kartu kredit dan KPR naik yang justru dapat membebankan masyarakat langsung. Menurutnya, ini bukan solusi.
"BI Rate naik rupiah pasti naik, tapi bunga kartu kredit juga naik, KPR juga naik, itu memberatkan, ini bukan opsi," ujarnya.
Terkait itu, Suluh menambahkan, Bank Indonesia (BI) saat ini tidak akan serta-merta kembali menaikkan tingkat suku bunganya karena melihat dampak sebelumnya yang tidak berpengaruh banyak terhadap masyarakat.
"Menaikkan BI rate sudah sering dilakukan ya. Tapi pengaruhnya nggak ada. Kemarin BI menahan suku bunganya kan, nah BI tidak akan menaikkan lagi dalam waktu dekat karena mereka nggak mau kelihatan tidak pintar," kata Suluh. (drk/dru)











































