Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terus melemah. Sejak awal tahun hingga kemarin, rupiah sudah melemah 11,9% dan dolar pun berada di Rp 10.945.
"Tekanan pelemahan nilai tukar Rupiah masih berlanjut, baik karena tekanan pasar keuangan global sebagaimana terjadi pada hampir semua negara emerging markets, maupun karena faktor domestik terutama terkait dengan tingginya defisit transaksi berjalan dan inflasi," Direktur Eksekutif BI Difi A. Johansyah dalam keterangan tertulis, Kamis (29/8/2013).
Bank sentral menilai tingkat nilai tukar Rupiah dewasa ini mencerminkan kondisi fundamental serta mendukung peningkatan ekspor dan penurunan impor dalam proses penyesuaian defisit transaksi berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, berlanjutnya ketidakpastian pengurangan bertahap (tapering) stimulus moneter oleh the Fed terus memberikan tekanan pada pasar keuangan di berbagai negara. Penarikan modal dan meningkatnya risiko investasi menyebabkan penurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi, dan pelemahan nilai tukar di hampir seluruh negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia.
Tekanan yang tinggi pada pasar keuangan global ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan kawasan Asia, termasuk China dan India, serta terus menurunnya harga komoditas primer, kecuali harga minyak. Kondisi ini telah memberikan tekanan pada kinerja perdagangan dan pasar keuangan Indonesia.
Tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih berlanjut, meskipun dengan intensitas yang mulai menurun. Berdasarkan data sementara ekspor dan impor hingga Juli 2013, defisit transaksi berjalan yang pada triwulan II-2013 mencapai 4,4% PDB diperkirakan akan menurun menjadi 3,4% PDB pada triwulan III-2013.
Defisit terutama berasal dari neraca perdagangan migas, sehubungan dengan masih tingginya impor minyak untuk konsumsi dalam negeri. Di sisi neraca modal dan finansial, surplus diperkirakan berasal dari arus modal asing masuk dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) dan investasi portofolio, terutama pada Surat Berharga Negara (SBN), di tengah arus modal keluar investasi portfolio dari pasar saham.
"Kondisi ini diharapkan dapat mendukung perbaikan dalam keseimbangan NPI dan kestabilan cadangan devisa," ujarnya.
BI memperkirakan inflasi IHK, diukur secara tahunan (year-on-year), masih akan tinggi. Namun diukur secara bulanan (month-to-month), inflasi IHK pada Agustus ini akan jauh lebih rendah dari Juli yang lalu, dan diperkirakan akan mulai kembali pada pola normalnya mulai September yang akan datang.
Secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan realisasi sampai dengan Juli dan perkiraan bulan-bulan yang akan datang, Bank Indonesia memperkirakan inflasi IHK pada akhir 2013 akan berkisar 9,0%-9,8%. Tingginya inflasi terutama berasal dari volatile foods dan administered prices, sementara inflasi inti masih relatif terkendali. (ang/dnl)











































