Tapi yang menjadi masalah saat ini adalah defisit perdagangan. Indonesia lebih banyak melakukan impor ketimbang ekspor.
"Kalau soal kurs itu zero sum, ada yang untung dan rugi," kata JK usai memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di kampus terpadu, Kasihan, Bantul, Selasa (3/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JK mengatakan, masyarakat dan kalangan dunia usaha di tanah air perlu melihat pemahaman soal nilai tukar secara terbalik. Melemahnya nilai tukar rupiah memang ada yang khawatir.
"Pelemahan rupiah tidak perlu terlalu panik menghadapinya. Sebab hal tersebut adalah cara kembali menstabilkan ekspor," katanya.
Soal nilai rupiah yang membuat harga impor kedelai melonjak, lanjut dia, bisa jadi peluang untuk pemerintah menggenjot produksi di dalam negeri. Petani perlu didorong untuk menanam kedelai dengan harga kedelai yang baik.
"Kalau harga kedelai naik, ini cuma 3-4 bulan, beri subsidi kepada komoditas tempe-tahu, ini jauh lebih murah daripada memberi subsidi dolar," katanya.
Menurut dia, pemerintah bisa meyakinkan petani untuk menanam kedelai karena harganya yang cukup baik. Pendapatan petani bisa naik dengan menanam kedelai. Pasokan kedelai, bisa dijaga dengan memastikan Bulog mengimpor kedelai. Pilihan kebijakan pemerintah sudah sesuai dengan ekonomi pasar.
"Nilai tukar rupiah, kalau stabilnya Rp 10 ribu oke saja, ndak perlu turun lagi ke Rp 8 ribu misalnya," pungkas Jusuf Kalla.
(bgs/dnl)











































