JK: Rupiah Melemah, Tidak Perlu Terlalu Panik

JK: Rupiah Melemah, Tidak Perlu Terlalu Panik

- detikFinance
Selasa, 03 Sep 2013 15:09 WIB
JK: Rupiah Melemah, Tidak Perlu Terlalu Panik
Foto: JK (dok.detikFinance)
Yogyakarta - Mantan Wakil Presiden (wapres) RI Jusuf Kalla (JK) meminta masyarakat dan kalangan bisnis untuk tidak perlu panik dengan menguatnya dolar AS terhadap rupiah. Sebab nilai tukar rupiah saat ini tengah menuju kesetimbangan baru terhadap dolar.

Tapi yang menjadi masalah saat ini adalah defisit perdagangan. Indonesia lebih banyak melakukan impor ketimbang ekspor.

"Kalau soal kurs itu zero sum, ada yang untung dan rugi," kata JK usai memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di kampus terpadu, Kasihan, Bantul, Selasa (3/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau sekarang US$ 1 sudah menembus Rp 11 ribu, lanjut JK, bagi yang berpendapatan dolar AS itu akan menguntungkan. Mereka yang ada di Sumatera, pelaku ekspor sawit, udang, dan coklat akan untung.

JK mengatakan, masyarakat dan kalangan dunia usaha di tanah air perlu melihat pemahaman soal nilai tukar secara terbalik. Melemahnya nilai tukar rupiah memang ada yang khawatir.

"Pelemahan rupiah tidak perlu terlalu panik menghadapinya. Sebab hal tersebut adalah cara kembali menstabilkan ekspor," katanya.

Soal nilai rupiah yang membuat harga impor kedelai melonjak, lanjut dia, bisa jadi peluang untuk pemerintah menggenjot produksi di dalam negeri. Petani perlu didorong untuk menanam kedelai dengan harga kedelai yang baik.

"Kalau harga kedelai naik, ini cuma 3-4 bulan, beri subsidi kepada komoditas tempe-tahu, ini jauh lebih murah daripada memberi subsidi dolar," katanya.

Menurut dia, pemerintah bisa meyakinkan petani untuk menanam kedelai karena harganya yang cukup baik. Pendapatan petani bisa naik dengan menanam kedelai. Pasokan kedelai, bisa dijaga dengan memastikan Bulog mengimpor kedelai. Pilihan kebijakan pemerintah sudah sesuai dengan ekonomi pasar.

"Nilai tukar rupiah, kalau stabilnya Rp 10 ribu oke saja, ndak perlu turun lagi ke Rp 8 ribu misalnya," pungkas Jusuf Kalla.


(bgs/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads