Situasi Ekonomi Tak Stabil, Reksa Dana Syariah Boleh Dilirik

Situasi Ekonomi Tak Stabil, Reksa Dana Syariah Boleh Dilirik

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Senin, 09 Sep 2013 15:48 WIB
Situasi Ekonomi Tak Stabil, Reksa Dana Syariah Boleh Dilirik
Jakarta - Ketidakpastian kondisi ekonomi Indonesia membuat para pelaku pasar mulai menggeser portofolio investasinya. Reksa dana syariah dinilai bisa menjadi alternatif diversifikasi investasi yang defensif di saat kondisi pasar sedang labil.

Fund Manager CIMB Principal Asset Management Cholis Baidowi mengatakan, reksa dana syariah bisa 'tahan banting' terhadap pelemahan ekonomi seperti saat ini. Pertumbuhan reksa dana berbasis syariah diklaim jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan reksa dana konvensional.

"Reksa dana syariah merupakan salah satu pilihan yang tepat sebagai alternatif investasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak pasar," kata Cholis Baidowi dalam konferensi persnya, di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Senin (9/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebutkan, secara historis indeks berbasis syariah sejauh ini hanya minus 4% atau lebih kecil dibandingkan Indeks LQ45 yang minus 5% dan Jakarta Composite Indeks (JCI) yang minus 8% saat kondisi pasar melemah.

Dia memperkirakan, dengan asumsi kenaikan IHSG bisa tumbuh hingga angka 4.600 atau naik sekitar 12% dari awal tahun, return reksa dana diperkirakan bisa lebih tinggi dari pertumbuhan indeks konvensional.

"Reksa dana syariah dapat unggul karena tidak memiliki saham perbankan. Saham-saham perbankan saat ini lagi turun terus karena kebijakan-kebijakan seperti kenaikan suku bunga, inflasi dan lain-lain," kata dia.

Dia menjelaskan, mengenai kebijakan BI dalam memperketat kebijakan fiskal seperti pembatasan LDR menjadi 92% dan naiknya giro wajib minimum ke 4% akan memperlambat pertumbuhan pinjaman perbankan yang berujung pada perlambatan pendapatan.

Jika dilihat lebih jauh lagi sektor perbankan memiliki bobot yang besar di IHSG sekitar 25%. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan Earning Per Share (EPS) yang lebih lambat pada IHSG dibanding dengan Jakarta Islamic Indeks (JII).

Selain itu, saham dengan tingkat utang yang tinggi di atas 45% tidak akan masuk ke dalam daftar saham syariah, di mana saham-saham tersebut mendapat tekanan dari tingkat suku bunga yang terus naik atas inflasi tinggi.

Sebagai contoh, tahun 2005-2006 dan 2008-2009, Jakarta Islamic Indeks (JII) mampu mengungguli IHSG 12-14% dan LQ45 10-12%. Bahkan selama tahun berjalan 2013, sudah mengungguli IHSG 11% dan LQ45 14%.

"Reksa dana syariah bisa jadi investasi alternatif karena return lebih tinggi dalam jangka panjang dibanding konvensional," kata dia.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads