Hal ini disampaikan oleh Presiden SBY dalam rapat terbatas dengan sejumlah menteri di kantornya, Jakarta, Selasa (10/9/2013).
"We are not alone sebetulnya, nilai tukar, nilai tukar rupiah terdepresiasi catatan Januari-Agustus 7,9%, minus hampir 8%. India minus 3%. Brasil minus 15,1%. Rusia minus 12%. Turki minus 8%, relatif sama dengan Indonesia. Artinya teman-teman kita sama dengan kita ini, dan kemarin (dalam pertemuan G-20) saling berbagi pikiran dan informasi," tutur SBY dalam rapat di kantornya, Jakarta, Selasa (10/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan itu, SBY juga menceritakan sedikit soal hasil perjalanannya menghadiri pertemuan KTT G-20 di Saint Petersburg, Rusia. Dari berbagai diskusi dalam pertemuan itu, SBY mengatakan, ekonomi negara maju saat ini mengalami peningkatan dan perbaikan, meskipun masih sedikit.
Sementara untuk negara berkembang, ekonominya masih berjuang untuk bisa tumbuh lebih tinggi.
"Contoh negara maju diperkirakan akan tumbuh 1,2%. AS tumbuh 1,7%, ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Saya dengar AS ingin lebih tinggi lagi 2 koma sekian persen. Bagus Perekonomiannya," kata SBY.
Kemudian untuk Rusia, ujar SBY, tahun ini pertumbuhan ekonomi Rusia diperkirakan 3,3%, China diperkirakan 7% lebih, India di kisaran 5,2%, Brasil 2,9%, dan Afrikan Selatan 2,5%.
"Jadi bila Indonesia bisa tumbuh sekitar 5,9%, andaikata ini bisa kita penuhi, maka peringkat pertumbuhan ekonomi kita masih nomor dua dari semua negara G-20 dan emerging market," kata SBY.
SBY juga mengatakan, persoalan pengangguran saat ini sedang dihadapi oleh sejumlah negara maju. Tingkat pengangguran di AS mencapai 7%, di Inggris 7%, Prancis 11%, Jerman 5,4%, dan Jepang 2,4%.
"Sementara itu posisi kita tidak terlalu jauh dengan negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan). Brasil (pengangguran) 5,6%, Rusia 6%, Tiongkok 4,1%. Di atas kita yang jelas Tiongkok dan Brasil, Rusia," ujar SBY.
(dnl/ang)











































