Astra Peroleh Kredit US$ 170 Juta dan Rp 600 M
Jumat, 05 Nov 2004 13:36 WIB
Jakarta - Perusahaan otomotif PT Astra International Tbk (ASII), mendapatkan fasilitas kredit revolving yang pertama sejak terjadinya krisis keuangan sebesar US$ 170 juta dan Rp 600 miliar dari sindikasi 16 bank.Jumlah fasilitas kredit ini lebih besar US$ 50 juta dari penawaran awal dan dapat ditingkatkan sampai dua kali lipat jika Astra menghendaki dan tidak mengurangi komitmen dari sejumlah bank.Demikian penjelasan Direktur Keuangan Astra John Slack, dalam keterangan tertulis, Jumat,(5/11/2004). Menurut Aminuddin, penandatangan kredit telah dilakukan pada Kamis kemarin,(4/11/2004) di Singapura.Sehubungan adanya fasilitas kredit tersebut, Astra memberikan kuasa pada ABN AMRO N.V., BNP Paribas, Citigroup Global Markets Asia Limited, The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC), Standard Chartered Bank dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebagai pihak yang mengatur dan menjamin transaksi ini.Sedangkan sepuluh partisipan bank lainnya yang ikut dalam transaksi ini adalah Mizuho Corporate Asia (HK) Ltd, Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd (OCBC), United Overseas Bank Ltd (UOB), HVB Corporates & Markets, DBS Bank, Standard Bank Asia Ltd, Bumiputra-Commerce Bank Bhd, Chinatrust Commercial Bank, Industrial and Commercial Bank of China dan UFJ Bank.Astra akan menggunakan kredit ini untuk membiayai ulang pelunasan pinjaman (refinancing) Perseroan dan untuk memenuhi persyaratan pendanaan korporasi lainnya. Fasilitas kredit revolving ini berjangka waktu tiga tahun dengan suku bunga sebesar 2,5 persen per tahun untuk mata uang dolar Amerika dengan menggunakan SIBOR.Menurut Slack, dengan pinjaman sindikasi yang baru itu, Astra akan terbebas dari restrukturisasi utang yang ada saat ini dimana aset Astra dijaminkan dalam persyaratan utang tersebut."Yang lebih penting dalam peristiwa tersebut adalah sindikasi yang baru ini merupakan suatu terobosan bagi Astra sekaligus menyatakan bahwa perusahaan kami telah keluar dan terlepas sepenuhnya dari era krisis," ujar Slack.
(djo/)











































