Untuk anak muda yang berusia masih di bawah 30 tahun, investasi apa yang 'pas' disiapkan untuk masa depan?
Assistant Vice Presiden Head Of Pension Sales Employee Benefits Manulife Indonesia Ricky Samsico mengatakan, investasi di saham menjadi salah satu pilihan untuk usia muda dalam menyiapkan keuangan di masa tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk investasi yang usianya di bawah 30 tahun, saham bisa jadi pilihan. Kinerja saham itu rata-rata bisa 25% per tahun tapi itu tergantung fluktuasi pasar," kata Ricky di Jakarta, Selasa (22/10/2013).
Bandingkan dengan obligasi yang rata-rata memberikan imbal hasil hanya 7,25% per tahun atau bunga deposito yang hanya rata-rata 7% per tahun.
"Kalau deposito namanya memiskinkan diri sendiri. Deposito bunganya paling 7% sementara inflasi terus naik bahkan bisa lebih dari 7%. Pasar obligasi juga lagi kurang bagus karena pasar juga lagi turun," ujar dia.
Ricky menyebutkan, untuk investasi masa tua, sedikitnya seseorang perlu menyisihkan 20% dari penghasilan bulanan. Hal itu untuk bisa mengcover segala kebutuhan kita di masa tua ketika sudah tidak bekerja lagi.
"Pada saat pensiun kita tidak terima gaji, anda harus punya income 70-80% dari gaji terakhir, itu dari mana pasti tabungan atau Dana Pensiun, bagaimana mengejarnya? Nah investasi saham bisa jadi alternatif," kata dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, saat usia kita di bawah 30 tahun sebaiknya portofolio saham porsinya lebih besar. Nanti, ketika usia 5 tahun mendekati masa pensiun, geserlah porsi portofolionya ke pasar uang (market money).
"Untuk usia muda disarankan menaruh lebih besar di jangka panjang obligasi atau saham. Semakin mendekati usia pensiun kurangi portofolio yang berisiko tinggi, 5 tahun menjelang pensiun kita ambil ke money market saja. Jadi pada saat usia 50 tahun, buang semua instrumen yang berisiko, kembali ke money market," tandasnya.
(drk/dru)











































