Analis Riset First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, IHSG di akhir pekan kemarin mendapat semangat, karena Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi yang rendah yaitu 0,09%. Akan tetapi angka defisit neraca perdagangan kembali mengalami defisit sebesar US$ 657,2 juta.
"Angka ini sangat mengecewakan, karena pemerintah gagal melaksanakan pekerjaan rumahnya dalam mengendalikan impor migas. Hal ini membuat defisit neraca perdagangan menjadi sebesar US$ 6,26 miliar. Faktor demo buruh juga menyebabkan hampir selama sepekan kemarin beberapa perusahaan menufaktur tidak dapat melakukan produksi dengan optimal," tutur David dalam risetnya, Sabtu (2/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
David mengatakan, faktor laporan keuangan juga menjadi sentimen yang mempengaruhi pasar. Dalam hal ini beberapa emiten mengalami pelemahan dalam laporan keuangannya. Sementara dari luar, sentimen positif bermunculan, antara lain data manufaktur China naik menjadi 51,4% di Oktober.
Selan itu Bank of Japan (BoJ) menyatakan negara dengan kekuatan ekonomi ketiga terbesar dunia itu tengah mengalami kemajuan setelah mencatat inflasi 2%. Pasar Amerika juga ditutup positif pada akhir pekan ini.
"Untuk pekan depan IHSG masih akan berpotensi terkoreksi. Masih belum kondusifnya kondisi buruh yang menuntut upah tinggi, data defisit neraca perdagangan, hingga prediksi turunnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan turunnya laba emiten akan menjadi sentimen negatif yang kuat," papar David.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya sebesar 5,6-5,8%. Akan tetapi bursa global yang bergerak positif dapat menjadi katalis yang menyebabkan IHSG tidak terkoreksi dengan cepat.
"Saat ini saya melihat support IHSG berada di level 4.350. Dan secara teknikal IHSG masih memiliki gap di 4.200. Investor sebaiknya mulai menjaga posisi kas dan melihat emiten yang masih dapat membukukan kenaikan pendapatan yang signifikan," tutup David.
(/)











































