Apa manfaat adanya perubahan tersebut?
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat mengatakan, perubahan dilakukan untuk menjaring banyak investor ritel masuk ke pasar modal. Dengan pemberlakuan perubahan satuan lot saham lebih sedikit dari 500 menjadi 100, memungkinkan para investor ritel bisa ikut berinvestasi di pasar modal karena harga saham jauh lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samsul menyebutkan, dengan perubahan satuan lot saham, fraksi dan kelompok harga, investor bisa lebih banyak alternatif pilihan harga yang dapat ditransaksikan dan mengurangi biaya transaksi. Selain itu, ketentuan ini dapat meningkatkan potensi terjadinya transaksi dan menurunkan antrean order.
"Antrean order yang panjang pada satu tingkatan harga efek dapat menghambat likuiditas," kata Samsul.
Selain itu, untuk ketentuan yg baru ini, maksimum volume order bisa dilakukan sebanyak 50 ribu lot dari sebelumnya yang hanya 10 ribu lot. "Maksimum volume order tadinya 10 ribu lot, sekarang 50 ribu lot jadi lebih banyak karena 1 lot 100 lembar," kata dia.
Saat ini, kecepatan transaksi order di BEI masih tergolong rendah artinya perbandingan kapitalisasi pasar (market cap) dengan transaksi masih rendah. "Selisih kuotasi harga jual beli yang terlalu besar di BEI menghambat terjadinya transaksi," kata dia.
Perlu diketahui, kelompok-kelompok harga di aturan yang baru yaitu kelompok harga di bawah Rp 200 per saham, Rp 200-5.000 per saham, dan harga di atas Rp 5.000 per saham.
Selain itu, otoritas bursa juga akan mengatur fraksi harga. Fraksi harga untuk setiap kelompok harga akan semakin kecil bila dibandingkan dengan sebelumnya.
Sebagai contoh di tahun 2.000, fraksi harga masing-masing kelompok harga saham adalah sebesar Rp 5, Rp 25, dan Rp 50. Untuk di aturan baru, fraksi harga yang berlaku adalah Rp 1, Rp 5, dan Rp 25.
Kecilnya fraksi harga juga akan memperkecil rasio permintaan dan transaksi. Saat ini rasio di Indonesia masih terbilang tinggi mencapai 69,41%. Dengan penurunan fraksi harga, diharapkan rasio permintaan dan transaksi bisa ditekan hingga ke level 29,2%.
Rasio permintaan dan transaksi yang semakin kecil akan mempengaruhi likuiditas karena selama ini investor ritel sulit melakukan transaksi karena harga saham terlalu tinggi.
(drk/hen)











































