Perusahaan-perusahaan Batubara Tekor di Akhir September

Perusahaan-perusahaan Batubara Tekor di Akhir September

- detikFinance
Rabu, 06 Nov 2013 13:58 WIB
Perusahaan-perusahaan Batubara Tekor di Akhir September
Jakarta -

PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

Perseroan membukukan pendapatan usaha yang US$ 2,4 miliar (Rp 24 triliun) di triwulan III-2013, turun 12% dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama US$ 2,7 miliar (Rp 27 triliun).

Laba bersihnya juga ikut anjlok sebanyak 47% ,menjadi hanya US$ 183 juta (R0 1,8 triliun) dibandingkan sebelumnya US$ 346 juta (Rp 3,4 triliun).

Meski demikian, dalam siaran pers manajemen Adaro menyatakan berhasil mencetak rekor kuartalan tertinggi produksi batubara yaitu sebesar 13,73 Mt dan melanjutkan penurunan biaya kas batubara menjadi US$ 34,68 per ton serta menurunkan belanja modal sebesar 71%.

"Kami tetap yakin bahwa batubara termal masih memiliki prospek yang positif dalam jangka panjangΒ  dan akan bekerja keras untuk meningkatkan pengembalian bagi para pemegang saham," kata manajemen.

PT ABM Investama Tbk (ABMM)

Laba bersih PT ABM Investama Tbk (ABMM) hingga kuartal III-2013 turun 14,05% menjadi US$ 16,4 juta (Rp 164 miliar), dari periode yang sama tahun 2012 sebesar US$ 19,08 juta (Rp 190 miliar).

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, pada Januari-September 2013, pendapatan ABM mencapai US$ 599,64 juta turun tipis 8,5% dibandingkan periode tahun sebelumnya di US$ 655,34 juta. Hal ini disebabkan penurunan harga komoditi tambang batubara.

Pendapatan perseroan cukup stabil akibat kenaikan kapasitas listrik yang diproduksi oleh Sewatama. Sewatama meningkatkan kapasitasnya menjadi 1.060 megawatt (MW) di bulan September 2013 dari sebelumnya 1.010 MW di akhir tahun 2012 dan hanya 978 MW di bulan September 2012.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Perusahaan tambang Grup Bakrie ini mencatat rugi Rp 3,72 triliun di akhir September 2013, namun dalam laporan kinerja tahun sebelumnya perseroan hanya memberi perbandingan dengan akhir Desember 2012 yaitu sebesar Rp 6,41 triliun.

Selain laba, pendapatan perseroan juga turun dari akhir Desember 2012 sebesar Rp 27,6 triliun menjadi Rp 26,5 triliun di akhir September tahun ini. Anjloknya pendapatan dan laba diakibatkan turunnya produksi dan harga jual batubara.

Anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), juga mengalami hal yang sama. Pendapatannya turun di akhir September 2013 secara tahunan, yaitu dari Rp 170 miliar menjadi hanya Rp 152 miliar.

Kerugiannya juga bengkak menjadi Rp 336 miliar selama sembilan bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 139 miliar.

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)

PTBA mencatat laba bersih Rp 1,24 triliun di akhir September 2013. Laba ini anjlok 42% dibandingkan posisi periode yang sama tahun lalu Rp 2,2 triliun.

Sementara pendapatan alias omzet perseroan dibukukan sebesar Rp 8,12 triliun di triwulan III-2013, turun dari posisi tahun lalu pada periode yang sama Rp 8,72 triliun.

"Masing-masing dari penjualan ekspor sebesar Rp 4,46 triliun dan penjualan domestik sebesar Rp 3,64 triliun," ujar Direktur Keuangan Bukit Asam Ach Sudarto.

Ia menerangkan, penjualan batubara perseroan mencapai 13,24 juta ton selama 9 bulan di 2013. Penjualan tersebut mengalami kenaikan sekitar 17% dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu yakni 11,36 juta ton.

PT Berau Coal Tbk (BRAU)

Penjualan perseroan turun dari US$ 1,12 miliar (Rp 11,2 triliun) di akhir September 2012 menjadi hanya US$ 1,08 miliar (Rp 10,8 triliun) di tahun ini periode yang sama.

Penjualannya turun tapi beban malah naik menjadi US$ 808 juta dari sebelumnya hanya US$ 744 juta. Akibatnya laba kotor juga jadi turun menjadi US$ 275 juta di sembilan bulan pertama tahun ini dibandingkan US$ 377 juta tahun lalu.

Setelah dipotong pajak dan biaya operasi lainnya, alhasil perseroan menderita rugi US$ 31 juta di triwulan III-2013. Rugi ini sedikit berkurang dibandingkan posisi tahun sebelumnya US$ 114 juta.
Halaman 2 dari 6
(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads