Dolar AS Tembus Rp 11.790, Ini Tanggapan Menkeu Chatib Basri

Dolar AS Tembus Rp 11.790, Ini Tanggapan Menkeu Chatib Basri

- detikFinance
Selasa, 26 Nov 2013 19:57 WIB
Dolar AS Tembus Rp 11.790, Ini Tanggapan Menkeu Chatib Basri
Foto: Chatib Basri (dok.detikFinance)
Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) hari ini mencapai posisi Rp 11.785 per dolar AS. Ini pun membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan melemahnya sampai terjun 99 poin.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, kondisi ini akibat kepanikan investor terhadap pengurangan stimulus oleh Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed). Banyak investor menilai pengurangan stimulus tersebut terjadi dalam waktu dekat.

"Pressure (tekanan) terhadap rupiah masih terus terjadi area ini, memang kekhawatiran terhadap tappering off (pengurangan stimulus AS) makin dekat karena orang itu menduga, pasar menduga itu lebih cepat dari pada perkiraan awal. Saya sih masih melihat belum terjadi Desember, mungkin di awal tahun," ungkap Chatib di kantornya, Jakarta, Selasa (26/11/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi lain, menurut Chatib ini adalah akibat kebutuhan valuta asing (valas) pada akhir bulan. Seperti pembayaran terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diimpor melalui Pertamina.

"Permintaan valas di akhir bulan itu selalu mengalami peningkatan. Tapi tidak banyak (pengaruhnya), karena lebih ini ke kehawatiran tappering off," sebutnya.

Akan tetapi, Chatib menilai kondisi ini masih lebih baik dibandingkan pada Agustus lalu. Di mana pergerakan nilai tukar cukup drastis dalam satu hari. Sehingga, menurutnya saat ini tidak perlu ada intervensi berlebih dari Bank Indonesia (BI).

"Sekarang itu kalau itu rupiah melemah 30 poin dan 60 poin, intervensi BI juga nggak terlalu banyak," ujarnya.

Chatib menjelaskan, baik pengetatan secara moneter maupun fiskal tetap harus penuh kehati-hatian. Ada dampak yang akan dialami sektor rill, jika pengetatan tersebut dilakukan terburu-buru.

"Pengetatan moneter tentu perlu diperketat, tapi nggak bisa interest rate-nya (suku bunga) terlalu tinggi, karena bank nanti bisa kolaps. fiskal juga harus diperketat, tapi juga tidak bisa terlalu ketat karena nanti nggak ada proyek," paparnya.

(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads