Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut nilai rupiah ini menunjukkan kondisi riil perekonomian Indonesia seperti tahun 2009. Rupiah menurutnya berada pada titik equilibrium atau keseimbangan baru.
"Rupiah kita sama tahun 2009. Pada saat itu yield obligasi pada situasi ini. Rupiah sekarang mencerminkan pada equilibrium baru," ucap Chatib saat pemaparan di acara Kompas100 CEO Forum di JCC Senayan Jakarta, Rabu (27/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dunia kembali tanpa Quantitative Easing. Yang perlu dijaga transisi dunia dari Quantitative Easing tanpa Quantitative Easing," jelasnya.
Untuk mengerem dampak pelemahan rupiah dan tapering off dari The Fed, pemerintah sedang dan akan melakukan beberapa kebijakan jangka pendek dan jangka menengah. Seperti peningkatan komponen biofuel pada BBM bersubsidi.
"Kebijakan Agustus lalu penggunaan biofuel. Solar dipakai 10% dari bio fuel. Bisa di-save US$ 196 juta dan akhir tahun US$ 300 juta bisa di save. Tahun depan bisa US$ 3-4 miliar di-save," jelasnya.
Solusi lainnya adalah mendorong pengurangan impor bahan baku dan menggenjot ekspor produk. Meskipun ada kendala yakni 60% produk ekspor Indonesia merupakan barang komoditas dan migas sehingga permintaan terpengaruh pada melemahnya ekonomi global.
"Kita buat peraturan pajak barang mewah. Beli Ferarri, Lamborghini wajar dinaikkan 150%. Ini kebijakan fiskal yang tight. Ini ada slow pertumbuhan ekonomi," katanya.
(feb/dru)











































