"Faktor internalnya adalah kebutuhan valas domestiknya naik. Jadi month to month demand-nya itu naik, karena apa? Akhir tahun biasanya orang itu bayar utang-utangnya. Terus dia harus bayar kebutuhan impornya," ungkap Chatib di kantornya, Jakarta, Jumat, (29/11/2013).
Ia menuturkan, biasanya barang impor sudah datang dari beberapa bulan sebelumnya. Namun, pembayaran baru dilakukan pada akhir tahun. Sehingga kebutuhan valutas asing meningkat.
"Impornya sudah datang duluan, dia harus bayar. Sehingga November itu angkanya perkiraaan sekitar US$ 6,3 miliar. Itu yang mendorong kemarin dalam pelemahan rupiah," sebutnya.
Sementara itu faktor eksternal juga masih terlihat dalam mendorong pelemahan rupiah. Terutama kepanikan pasar atas rencana penarikan stimulus oleh Bank Sentral AS The Fed. Ini pun juga berdampak terhadap mata uang lainnya di negara-negara Asia.
"Beberapa currency termasuk rupe juga kemaren ikut melemah. Ada beberapa negara kayak peso kayak bath, itu juga mengalami pelemahan," pungkasnya.
(mkj/ang)











































