Memang tingginya kebutuhan dalam negeri mendorong impor semakin tinggi. Kalau produksi dalam negeri bisa mencukupi kebutuhan, maka pelemahan nilai tukar tidak akan dianggap sebagai sebuah kiamat karena tidak perlu impor.
"Ketika rupiah melemah jangan dianggap kiamat. Cuma bedanya, kita ini manja. Kenapa? Karena sulit impor. Kita merengek kalau rupiah melemah," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Difi Johansyah dalam diskusi seputar nilai tukar di Hotel Trans Luxury, Bandung, Sabtu (7/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sulitnya bagi importir, harga harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Sehingga kenaikan harga jual menjadi pertimbangan yang cukup serius.
"Makanya ketika rupiah melemah, kita merengek karena kita nggak bisa impor," sebutnya
Padahal barang impor tersebut banyak yang bisa diproduksi di dalam negeri. Seperti peralatan elektronik. Meskipun dirakit di Indonesia, namun komponennya masih saja diimpor.
"Masalah kita memang kita nggak bisa memproduksi barang sendiri," ungkapnya.
(mkj/ang)











































