Bagaimana dengan Indonesia?
Ekonom Universitas Indonesia (UI), Lana Sulistianingsih menilai negara ini sulit untuk mempercepat ekspor. Pasalnya biaya produksi masih sangat tinggi. Sehingga harga barang menjadi mahal dan tidak kompetitif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, seperti dalam produksi sepatu Adidas di Indonesia dan Vietnam. Meskipun pelemahan nilai mata uang di Vietnam tidak sedalam Indonesia, namun produksi sepatunya lebih diminati negara lain. Karena harganya lebih murah.
"Adidas di Indonesia itu dibawa ke Amerika Serikat (AS) lebih mahal harganya dibanding Adidas yang diproduksi Vietnam dibawa ke AS. Jadi artinya ekspor kita nggak bisa maju juga," jelasnya.
Sehingga teori pelemahan nilai tukar untuk memacu ekspor di negara lain tidak berlaku di Indonesia. Apalagi mengingat komponen barang untuk ekspor masih mengandalkan impor. Termasuk mesin dan peralatan mekanik lainnya.
"Jadi belum tentu memberikan efek positif, karena harga barang kita lebih mahal. Apalagi untuk bahan bakunya banyak yang impor," sebut Lana.
Lana menambahkan, mahalnya harga barang juga dipengaruhi oleh biaya transportasi yang tinggi. Ini disebabkan oleh infrastruktur yang tidak memadai. Salah satu dampak buruknya adalah kemacetan.
"Biaya transportasi, logistik, macet, barang mau dikirm ke pelabuhan berhenti di tol. Itu dihitung oleh pengusaha. Jangan pikir itu diabaikan. Kemudian yang dirugikan dan dibebankan adalah konsumen," terangnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Difi A Johansyah menuturkan, Korea Selatan adalah salah satu negara yang mampu memanfaatkan pelemahan nilai tukarnya. Negeri K-Pop ini bahkan sempat mengalahkan Jepang.
"Waktu itu Yen memang lebih kuat dari mata uang Korsel. Akibatnya ekspor Jepang mengalami perlambatan dan Korsel langsung melesat," ujarnya pada kesempatan yang sama.
Pelemahan nilai tukar pada suatu negara akan membuat keuntungan eksportir menjadi lebih besar. Karena barang tetap menggunakan kurs dolar, sementara biaya produksi tetap rupiah. Ini yang memacu pengusaha untuk mengekspor produknya.
"Padahal, ketika rupiah itu melemah itu dapat memacu ekspor," jawab Difi.
(mkj/dru)











































