Kepala Riset Asia Financial Network (AFN) Rowena Suryobroto, selama 3 tahun terakhir saham-saham tersebut sudah terdiskon lebih dari 50% dan telah berada di bawah harga wajar.
"Penurunan ini sudah memasukkan faktor-faktor tekanan harga komoditi serta berbagai kebijakan dalam negeri dan luar negeri. Namun yang patut dicatat, bahwa aset tambang yang dimiliki perusahaan-perusahaan ini tetap bernilai tinggi. Nantinya, perbaikan harga komoditi serta strategi yang diambil oleh perusahaan-perusahaan ini akan menjadi pendorong nilai tambah bagi investor," kata Rowena, dalam keterangan tertulis, Kamis (19/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kinerja saham-saham tambang tahun ini memang datar saja karena masih banyak perusahaan yang rugi. Namun, tahun depan saham perusahaan batubara patut dilirik.
Sebagai contoh kinerja PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Vale Indonesia (INCO). Menurut Rowena menyampaikan, hampir semua emiten kecuali PTBA membukukan pertumbuhan kinerja pendapatan yang lebih tinggi di kuartal III-2013 jika dibanding dengan kuartal I dan II-2013.
Ia mengatakan, hal tersebut membuktikan di sektor rill, perusahaan-perusahaan pertambangan telah mulai menemukan celah untuk bertahan meski kinerjanya belum kinclong.
"Memang laba belum mampu memberikan indikasi yang positif karena dalam usaha mempertahankan operasi, perusahaan terpaksa mengambil langkah-langkah yang membuat laba tidak stabil, misalnya dengan menerbitkan utang dan sebagainya. Tapi, kinerja pendapatan telah memberikan keyakinan bahwa saham-saham pertambangan dengan jejak rekam yang baik bisa menjadi pilihan investasi," ujar Rowena.
Saham-saham lapis dua dan tiga juga layak diperhatikan tahun depan. Menurutnya, saham-saham tersebut punya peranan penting serta dan patut dilirik investor dalam beberapa bulan mendatang.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan saham-saham unggulan di LQ45 yang sudah makin terbatas, dalam tiga tahun terakhir yang hanya tumbuh 8% bahkan di tahun 2013 indeks harga LQ45 minus 2,9%.
"Sementara fundamental, banyak saham-saham lapis kedua dan ketiga sebenarnya baik namun belum terekspos secara optimal kepada sebagian besar investor," ujarnya.
(ang/ang)











































