Perdagangan valuta asing kian marak di pasar ASEAN termasuk Indonesia. Riset awal tahun dari Mc.Kinsey & Co Global menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia bisa mencapai lebih dari 50 juta jiwa. Atas dasar tersebut perdagangan valuta asing diprediksi akan melonjak pesat.
Volume perdagangan valuta asing saat ini mencapai 750 juta lotβ1,25 miliar lot atau unit transaksi per hari.
"Tren yang ada memperlihatkan bahwa pertumbuhan pasar valuta asing akan mencapai 5 persen year on year dalam 5 tahun ke depan," ujar Head of Marketing Executive and Investor Relations PT Askap Futures, Rizki Bastari seperti tertuang dalam keterangannya, Jumat (20/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Rizki menyebutkan, pasar perdagangan valuta asing di Indonesia telah melalui jalan panjang. Dari mulai perdagangan secara manual melalui telepon, sektor ini bergerak ke arah perdagangan straight through processing (STP) hingga ke social trading. Kedua perkembangan terakhir menurut Rizki dipicu oleh melimpah-ruahnya perusahaan dotcom dan juga kian memasyarakatnya akses internet.
"Karena memang perdagangan valuta asing melalui STP dan social trading dimungkinkan melalui akses internet," ujar Rizki.
Dalam pengamatan Rizki, social trading menjadi salah satu alternatif pilihan berinvestasi pada sektor perdagangan valuta asing. Sehingga, Rizki menyebutkan Askap Social Trade ikut ambil bagian dalam perdagangan valuta asing ini. Askap Social Trade untuk saat ini baru bisa digunakan untuk transaksi minilot atau akun mini dengan nilai minimal Rp 5 juta. (dru/ang)











































