Beberapa emiten mampu meraih kinerja terbaik dengan kenaikan harga saham yang melejit. Sebaliknya, banyak juga di tahun 2013 justru membuat beberapa emiten mencatat kinerja terburuk dengan anjloknya harga saham. Apa tanggapan analis pasar modal terkait hal itu?
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menilai, melejitnya harga saham suatu emiten tidak melulu karena baiknya kinerja perseroan. Bahkan, sebagian besar pencapaian tersebut lebih dikarenakan karena aksi spekulan dengan memanfaatkan aksi korporasi sebuah perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reza mencontohkan, beberapa perusahaan dengan jenis industri yang sama mencapai kinerja pertumbuhan masing-masing 15%. Namun, ada satu perusahaan dengan industri yang sama justru harga sahamnya melonjak hingga 50%. Hal itu tidak bisa dinilai wajar.
βMisal begini, 2 perusahaan yang jenis industrinya sama. Dua-duanya sama tumbuh 15% tapi perusahaan yang satunya lagi harga sahamnya melonjak 50% lebih, itu berarti kan ada sesuatu,β jelas dia.
Berikut 5 top gainers dan 5 top loser emiten di 2013 berdasarkan analisa Asia Financial Network (AFN).
5 Top Gainers 2013
1. PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA)
Sepanjang tahun 2013 peningkatan saham TKGA melonjak sebesar 840%. Perseroan pertama kali mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia pada 6 Januari 1992. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 52 juta saham dengan harga tertinggi Rp 2.350 per lembar saham.
2. PT Cowell Development Tbk (COWL)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham COWL melonjak sebesar 221,7%. Perseroan pertama kali mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia pada 19 Desember 2007. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 250 juta saham dengan harga tertinggi Rp 480 per lembar saham.
3. PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham APIC melonjang sebesar 166,3%. Perseroan pertama kali mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia pada 18 Desember 2002. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 280 juta saham dengan harga tertinggi Rp 510 per lembar saham.
4. PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham GREN melonjak sebesar 107,9%. Perseroan pertama kali mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia pada 9 Juli 2010. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 4.605.000.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 121 per lembar saham.
5. PT Tri Banyan Tirta (ALTO)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham ALTO melonjak sebesar 103,2%. Perseroan pertama kali mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia pada 10 Juli 2012. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 1.550.000.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 580 per lembar saham.
5 Top Losers 2013
1. PT Sepatu Bata Tbk (BATA)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham BATA merosot hingga 98,2%. Perseroan melakukan stock split pada 4 September 2013. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 1.300.000.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 1.070 per lembar saham.
2. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham AMRT merosot 91,2%. Perseroan melakukan stock split pada 29 Juli 2013. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 37.749.547.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 460 per lembar saham.
3. PT Nipress Tbk (NIPS)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham NIPS merosot 91%. Perseroan melakukan stock split pada 25 Novemberi 2013. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 720.000.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 335 per lembar saham.
4. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham TOWR merosot 88,3%. Perseroan melakukan stock split pada 22 Juli 2013. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 10.202.925.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 2.600 per lembar saham.
5. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI)
Sepanjang tahun 2013 perdagangan saham ROTI merosot 84,2%. Perseroan pertama kali melakukan penawaran saham perdana di pasar modal Indonesia pada 28 Juni 2010. Saat ini, jumlah saham perseroan yang diperdagangkan sebanyak 1.012.360.000 lembar saham dengan harga tertinggi Rp 1.030 per lembar saham.
(drk/ang)











































