Ia menjelaskan pada tahun 2011, rupiah stabil pada kisaran Rp 9.500/US$. Kondisi fundamental kala itu terlihat baik. Sebab, neraca perdagangan hingga neraca transaksi berjalan tehitung surplus.
"Kurs itu harus menggambarkan secara teori adalah fundamental ekonomi. Pada waktu kita mengalami trade balance dan current account surplus sampai 2011, itu kurs kita cocok disitu pada kisaran Rp 9.500/US$," kata Mirza dalam konfrensi pers di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (9/1/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kemudian kita mengalami current account defisit, tentu kurs Rp 9.500/US$ itu nggak cocok. Nah ketika kurs melemah, sebagai reaksi adanya tappering dan juga sebagai bauran kebijakan mengatasi current account, kemudian menunjukkan hasilnya bahwa neraca perdagangan sudah mulai surplus," jelasnya
Rupiah secara point-to-point melemah 20,8% (yoy) selama tahun 2013 ke level Rp 12.170 per dolar AS. Secara rata-rata, rupiah melemah 10,4% (yoy) ke level Rp 10.445 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terutama cukup kuat terjadi sejak akhir Mei 2013 hingga Agustus 2013.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Perry Warjiyo menuturkan komitmen BI sesuai fundamental. Salah satunya terlihat pada upaya perbaikan defisit transaksi berjalan. BI optimis defisit akan berada di bawah 3,5% pada tahun 2013.
"Dalam beberapa waktu terakhir terjadi perbaikan CAD. Kebijakan nilai tukar, salah satu penyesuaian dari CAD melalui perkembangan nilai tukar yang terdepresiasi. Sekarang kelihatan hasilnya. Perkembangan positif muncul," kata Perry .
"Indikasinya adalah neraca non migas bisa surplus US$ 5,4 miliar. Perkiraan sebelumnya sedikit lebih rendah US$ 4 miliar. Ini bagian dari hasil salah satu bukti perkembangan positif bauran kebijakan BI dan pemerintah mengarahkan makro ekonomi ke arah yang lebih sustainable dan sehat," sambungnya.
(mkj/dru)











































