IHSG Melorot 1,130 Poin

IHSG Melorot 1,130 Poin

- detikFinance
Senin, 29 Nov 2004 16:22 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Senin, (29/11/2004), turun 1,130 poin pada level 964,086. Investor mulai melakukan konsolidasi dan melepas saham-saham, seperti sektor telekomunikasi yang harganya sudah tinggi. Namun demikian, potensi indeks untuk naik tetap terbuka karena investor melakukan selektif buying.Indeks LQ-45 naik 0,082 poin pada level 210,098, Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,640 poin di posisi 160,296, Indeks Papan Utama (MBX) naik 0,052 poin pada level 256,332, dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 1,781 poin pada posisi 225,603.Perdagangan di pasar reguler tetap berlangsung ramai dengan transaksi yang terjadi sebanyak 20.175 kali pada volume 3.579.102 lot saham senilai Rp 1,231 triliun. Sebanyak 51 saham naik, 77 saham turun dan 245 saham stagnan.Saham-saham yang turun harganya di top loosser diantaranya Semen Gresik (SMGR) yang turun Rp 400 di posisi Rp 12.450, International Nikel Corporation (INCO) turun Rp 200 menjadi Rp 11.750, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 150 menjadi Rp 6.400, Bank Permata (BNLI) turun Rp 50 menjadi Rp 1.225, Indosat (ISAT) turun Rp 50 ke level Rp 5.750, Telkom (TLKM) turun Rp 50 ke harga Rp 4.950, dan Bank Niaga (BNGA) turun Rp 10 menjadi Rp 460.Sedangkan, saham yang masih mencetak kenaikan harga di top gainer diantaranya, Astra Internasional (ASII) naik Rp 150 menjadi Rp 8.750, Bank BCA (BBCA) naik Rp 100 menjadi Rp 2.725, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 75 menjadi Rp 2.625, Bank BRI (BBRI) naik Rp 50 menjadi Rp 2.400, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 50 menjadi Rp 4.350.Menurut David Fernandus, Dirut PT Anugerah Securindo Indah, penurunan indeks lebih bersifat temporer karena investor melakukan konsolidasi terlebih dahulu. Namun potensi indeks masih berpeluang naik, karena secara psikologis investor percaya indeks akan menembus level 1.000.Saat ini yang terjadi, menurut Ferdinandus, selektif beli karena pasar memasuki tahap konsolidasi. Ini artinya, indeks masih berpeluang mengalami kenaikan. Namun, pergerakan harga saham tidak bisa lagi secara sektoral, tetapi individu-individu."Jika investor percaya indeks bisa menembus 1.000, maka yang terjadi indeks akan terus mengarah ke sana. Tetapi sebenarnya kalau ingi membeli saham tidak perlu menunggu indeks sampai berapa. Yang penting jangan terlampau optimis dan jangan terlalu pesimis. Harus realistis saja," paparnya. (mi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads