SMGR Percepat Pembayaran Utang ke Bank Mandiri Rp 200 M
Selasa, 30 Nov 2004 14:46 WIB
Jakarta - PT Semen Gresik Tbk., (SMGR), berencana mempercepat pembayaran utang kepada Bank Mandiri dengan nilai utang pokok sebesar Rp 200 miliar. Utang tersebut seharusnya jatuh tempo pada September 2006, namun diharapkan bisa dibayar pada Maret 2006.Hal tersebut disampaikan Dirut SMGR Satriyo usai RUPSLB di Hotel Shangri La, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta, Selasa, (30/11/2004).Menurut Satriyo, jika ditambahkan dengan bunga bank atas pinjaman pokok tersebut, maka keseluruhan kewajiban perseroan mencapai Rp 300 miliar dengan tingkat bunga sebesar 13 persen.Kewajiban kepada Bank mandiri ini merupakan kewajiban perseroan sendiri di luar anak perusahaan, Semen Padang dan Semen Tonasa. Total keseluruhan utang SMGR Grup tercatat Rp 1,2 triliun terdiri dari utang SMGR senilai Rp 600 miliar dengan komposisi utang obligasi Rp 400 miliar dan utang kepada Bank Mandiri sebesar Rp 200 miliar. Dan, sisanya utang Semen Tonasa senilai Rp 250 miliar dan Semen Padang yang lebih dari Rp 300 miliar.Menurut Satriyo, dengan adanya percepatan pembayaran utang tersebut, maka beban bunga SMGR bisa dikurangi. Diharapkan, khusus untuk utang SMGR bisa berkurang hingga 50 persen. Satriyo juga menjelaskan, untuk tahun depan diperkirakan pertumbuhan permintaan semen tetap sama dengan tahun ini sekitar 8-10 persen."Jika terdapat ekses kapasitas, SMGR tetap bisa melakukan ekspor. Namun karena permintaan tahun depan sama seperti tahun ini, kebutuhan ekspor bisa digeser untuk kebutuhan pasar neger," katanya.Dia juga menjelaskan, bahan bakar yang digunakan SMGR yakni batubara sudah mengalami kenaikan lebih dari 50 persen. Hal ini membuat ongkos produksi terus meningkat. Jika tahun depan, ada kenaikan harga BBM kemungkinan SMGR akan menaikkan harga jualnya."Tetapi kit abelum tahu berapa, karena kalau tidak dinaikkan kita akan mengalami kesulitan," katanya.Sementara itu, Dirut SMGR Cholil Hasan mengatakan, untuk pembuatan pembangunan pabrik semen Tuban memiliki kapasitas produksi 2,3 juta ton per tahun. Investasi tersebut memakan biaya sebesar Rp 3 triliun.Jika perusahaan bisa menyediakan dana hingga 15 persen, maka 85 persennya akan dicarikan dari kredit ekspor. Namun, menurut Cholil, perusahaan harus membenahi masalah internal terlebih dulu sebelum membangun pabrik baru di Tuban.Selain itu, perseroan juga harus mengajukan proposal yang kemungkinan akan diusulkan pada tahun 2005. Mengenai penyelesaian dengan pihak Cemex, manajemen SMGR lebih memilih diselesaikan oleh pemegang saham (pemerintah). Hingga akhir tahun 2004, penjualan konsolidasi diperkirakan mencapai Rp 5 triliun dengan laba bersih minimal Rp 400 miliar.Sedangkan tahun 2005, penjualan diperkirakan tidak akan berbeda jauh dengan tahun ini dengan target laba bersih sekitar Rp 500 miliar.Hasil RUPSLBSementara dalam RUPSLB disetujui sebagian dividen final pada tahun 2003 sebesar 45 persen dari total laba bersih Rp 378,8 miliar, atau Rp 170,48 miliar dengan nilai per saham sebesar Rp 287,41/saham.Namun, sebagian telah dibayarkan berupa dividen interim pada Agustus 2004 sebesar Rp 103,6 miliar. Selain itu, RUPSLB juga menyetujui pembagian dividen final tahun 2002 sebesar 45,1 persen dari laba bersih Rp 151,3 miliar atau Rp 68,23 miliar dengan nilai Rp 115,03/saham yang telah dibayarkan pada 6 Agustus 2003.Seperti diketahui, adanya keterlambatan penyampaian laporan keuangan konsolidasi pada tahun 2002 dan 2003 menyebabkan perseroan harus meminta persetujuan kembali kepada pemegang saham. Keterlambatan itu terjadi karena anak perusahaannya, Semen Padang, tidak bisa menyediakan laporan audit 2002, dan saat manajemen baru bisa mengendalikan perusahaan sejak Desember 2003, manajemen baru dihadapkan pada konsidi sistem akuntansi yang ada tidak siap diaudit.Audit khusus yang telah dilaksanakan atas Semen Padang tersebut dan pemuktahiran laporan keuangan 2002-2003 dilakukan oleh PwC.
(umi/)











































