Investor dengan profil risiko konservatif cocok dengan jenis investasi ini. Investor konservatif merupakan investor yang yang tidak terlalu 'berani' berinvestasi di pasar saham yang risikonya tinggi.
Reksa dana campuran yang merupakan gabungan dari saham maupun obligasi. Apabila kinerja saham sedang jeblok, maka investor ini bisa menempatkan dananya pada instrumen obligasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk yang konservatif mungkin bisa coba beberapa reksa dana campuran, ini tingkat risikonya lebih rendah dibanding saham," ujar dia saat Acara Schroder Tips Berinvestasi Untuk Keluarga di Tahun Politik 2014 di E&O Restaurant, Menara Rajawali, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (28/1/2014).
Irwanti menjelaskan, dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibanding saham, reksa dana campuran bisa memberikan keuntungan atau return di atas bunga bank.
Sepanjang tahun 2013, reksa dana campuran ini masih mampu memberikan return positif di tengah 'merahnya' rapor jenis investasi lain. Return reksa dana ini masih bisa naik 2% di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan -0,98% di tahun 2013.
Reksa dana pendapatan tetap juga menorehkan warna merah hingga minus 11%.
"Reksa dana campuran tahun kemarin masih positif naik 2%, fix income turun sekitar 11%. IHSG juga kan minus 0,98%," ujarnya.
Dia menambahkan, reksa dana campuran di tahun ini juga diperkirakan masih bakal positif dengan rata-rata keuntungan per tahun bisa di angka 10%.
"Tahun ini ya mungkin bisa di 10% ya, tapi itu semua tergantung taruhnya di mana. Kalau porsi sahamnya lebih besar dan kinerja saham bagus ya bisa lebih tinggi, tergantung penempatannya di saham berapa, obligasi berapa," jelas Irwanti.
(drk/dnl)











































