Pendapatan UNTR Hingga Akhir Tahun Diperkirakan Rp 8,5 T

Pendapatan UNTR Hingga Akhir Tahun Diperkirakan Rp 8,5 T

- detikFinance
Jumat, 03 Des 2004 16:15 WIB
Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) memperkirakan pendapatan hingga akhir tahun 2004 sebesar Rp 8,5 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding target semula yakni Rp 7,5 triliun.Target pendapatan tersebut dengan asumsi kurs rupiah stabil di Rp 9.000 per dolar AS. Sedangkan untuk laba bersih, diperkirakan mencapai Rp 960 miliar - Rp 970 miliar dengan kurs yang sama.Laba bersih tersebut selain berasal dari pendapatan yang meningkat, juga dari keuntungan divestasi beberapa anak perusahaan. Seperti PT Berau Coal, PT Pandu Dayatama Patria, dan PT Komatsu Indonesia Tbk.Demikian diungkapkan Direktur Keuangan UNTR, Buntoro Muljono dalam publik ekpsos di Four Seasons Hotel, Kuningan, Jakarta, Jumat (3/12/2004). Hingga 10 bulan tahun 2004, pendapatan bersih UNTR telah mencapai Rp 7,5 triliun dengan laba bersih Rp 898 miliar.Buntoro juga menjelaskan, untuk tahun 2005 pertumbuhan pendapatan diperkirakan hanya sebesar 4 persen - 5 persen. Pertumbuhan ini lebih kecil dibanding tahun ini karena sejak semester I 2004, UNTR telah melepas Berau Coal.Sebelumnya dengen adanya Berau Coal pertumbuhan perusahaan bisa mencapai 14 persen. "Proyeksi tahun 2005 bersifat konservatif karena tergantung principal yang terbatas," tutur Buntoro.Buntoro menjelaskan saat ini jumlah utang perusahaan sebesar US$ 96,2 juta. Menurutnya tidak tertutup kemungkinan perusahaan melakukan refinancing jika ada return yang lebih bagus. Namun, sambungnya, sekarabng perseroan belum mempunyai rencana itu karena sisa utang saat ini dinilai sudah compartible.Total permintaan alat-alat berat untuk indutri nasional pada tahun 2004 mencapai 4500 unit, naik dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar 2500 unit. Bahkan jika persediaan ada permintaan tersebut bisa mencapai 5000 unit, di mana angka ini menyamai permintaan tahun 1996.Untuk capital expenditure 2005, diperkirakan sebesar US$ 10 juta - US$ 15 juta. Dana ini akan digunakan untuk perluasan whrehouse, peralatan kantor dan peralatan transportasi.Mengenai deviden tahun buku 2004, Buntoro belum mau menjelaskan. Perseroan sendiri pada 17 Desember 2004 akan membayar deviden interim sebesar Rp 20 per saham.Buntoro juga mejelaskan, pada bulan Desember perseroan kembali akan melakukan penandatangan dengan kreditur untuk restrukturisasi utang lanjutan yang sebelumnya sudah dilakukan. Jadwal amortisasi utang tersebut adalah Desember 2004 sampai Juni 2006 masih 0.Kemudian Desember 2006 membayar US$ 10,2 juta, Juni 2007 pembayaran sebesar US$ 15 juta, Desember 2007 tidak ada pembayaran. Sedangkan Juni 2008, Desember 2008, Juni 2009, dan Desember 2009 masing-masing membayar US$ 15 juta. Terakhir pada Juni 2020, pembayarasn sebesar US$ 11 juta.Jadwal pembayaran utang di atas adalah untuk sisa utang saat ini yang sebesar 96,2 juta. (djo/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads