Menteri Keuangan Chatib Basri menuturkan impor minyak masih menjadi penyebab defisit transaksi berjalan atau current account deficit (defisit transaksi berjalan). Defisit ini harus dikurangi, agar devisa tidak terus tergerus.
"Caranya memang sekarang adalah mempercepat itu (wajib penggunaan) biodiesel. Kalau itu dijalankan dipercepat, itu impor solarnya bisa turun. Kan minyak itu masih jadi penyebab utama dari defisit perdagangan dan transaksi berjalan," kata Chatib di kantornya, Jakarta, Senin (17/2/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ini yang jadi isu impor BBM. Kita juga lihat reformasi subsidi seperti apa," sebutnya.
Seperti diketahui dari program wajib 10% biodiesel dalam setiap liter solar, ditargetkan ada penghematan devisa negara US$ 3,11 miliar pada tahun ini. Di tahun sebelumnya, program biodiesel ini menghemat devisa negara sebesar US$ 779 juta. Untuk itu campuran biodiesel ditargetkan mencapai 1,64 juta KL (kiloliter).
Di samping itu, beberapa kebijakan lainnya adalah implementasi dari kenaikan PPh impor pasal 22 untuk barang konsumsi akhir dan pelonggaran dari Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).
"Tak cuma biodiesel. Kita kan punya banyak kebijakan yang memasng terus dilakukan PPh impor pasal 22 ada KITE juga kan," terang Chatib.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, sepanjang 2013 lalu, Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.
Selain Singapura, berikut negara-negara yang BBM-nya sering dibeli oleh Indonesia sepanjang 2013:
- Malaysia, dengan niai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun. Jumlahnya 6,7 juta ton
- Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 25 triliun. Jumlahnya 2,7 juta ton
- Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9 triliun. Jumlahnya 1,07 juta ton
- Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7 triliun. Jumlahnya 735 ribu ton
- Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5 triliun. Jumlahnya 562 ribu ton
- Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 371 ribu ton
- Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Jumlahnya 310 ribu ton
- Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 277 ribu ton
- China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih. Jumlahnya 245 ribu ton
- Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar atau Rp 10 triliun lebih. Jumlahnya 1,01 juta ton











































